"PENGGUNAAN MEDIA KARET UNTUK MENUMBUHKAN
KEBERANIAN, KESENANGAN DAN PERCAYA DIRI DALAM PEMBELAJARAN LOMPAT TINGGI DI
KELAS IV SDN 1 KALIJATI”
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Setiap cabang olah raga memerlukan
keterampilan, keberanian, kesenangan dan percaya diri tertentu dalam melakukan
agar hasilnya bisa maksimal. Seperti tinju, pencak silat, karate, sepak bola
dan cabang olah raga yang lain memerlukan hal tersebut. Demikian juga halnya
dengan cabang olah raga lompat tinggi, agar hasilnya optimal perlu memiliki
keberanian, kesenangan, dan percaya diri dalam melakukannya.
Namun kenyataannya tidak semua murid
memiliki keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam melakukan gerak dalam
cabang olahraga lompat tinggi, seperti yang penulis amati ketika mengajar
lompat tinggi di kelas IV SDN 1 Kalijati
Dalam pre tes hasil belajar siswa menunjukkan bahwa 86 % siswa belum mencapai
KKM yaitu 60 (Hasil lengkap pre tes terdapat pada lampiran 3). Hal ini
menunjukkan bahwa dalam pembelajaran lompat tinggi mengalami masalah yang harus
dicari solusinya.
Salah satu tugas seorang guru
olahraga adalah meyiapkan diri untuk melatih para siswanya yang mempunyai minat
dan bakat di bidang olahraga tertentu, guna mencapai prestasi optimalnya kelak.
Berangkat dari permasalahan
tersebut, penulis mencoba menerapkan salah satu media yaitu ‘”Penggunaan media
karet” yang penulis anggap efektif dan efisien untuk menumbuhkan keberanian,
kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi di kelas IV SDN 1 Kalijati
Diharapkan dengan cara memodifikasi
alat pembelajaran dengan menggunakan media karet siswa akan lebih konsentrasi
pada lompatan dibandingkan dengan menggunakan media standar pada lompat tinggi,
sehingga akan terhindar dari rasa takut, timbul kesenangan dan rasa percaya
diri yang menuju pada perubahan dan perbaikan sesuai yang diharapkan.
Adapun yang menjadi dasar penulis
dalam melakukan penelitian tindakan ini sesuai dengan ilmu perkembangan yang
penulis ketahui diantaranya:
Terminologi dalam perkembangan gerak. Ada beberapa
istilah dalam perkembangan gerak yang perlu dijelaskan pengertiannya yaitu
istilah-istilah :
1.
Pertumbuhan (growth)
2.
Perkembangan (development)
3.
Kematangan (maturation)
Pertumbuhan adalah proses
peningkatan yang ada pada diri seseorang yang bersifat kuantitatif atau
peningkatan urutan, misalnya mengenai pertumbuhan fisik.
Perkembangan adalah proses perubahan
kapasitas fungsional atau kemampuan kerja organ-organ tubuh semakin bisa
dikendalikan sesuai dengan fungsiya masing-masing. Perkembangan gerak pasti
terjadi dengan memberikan media latihan fisik yang disesuaikan dengan tingkat
keberanian, kesenangan sehingga timbul kepercayaan diri secara bertahap.
Kematangan adalah kemajuan dalam
proses meningkatkan individu menjadi matang, seperti halnya dalam pertumbuhan
dan perkembangan juga berlangsung secara berangsur-angsur. Proses peningkatan
kemampuan berhubungan dengan dengan terjadinya masa-masa sensitif untuk
munculnya atau berkembangnya perilaku baru. Proses belajar akan meyempurnakan
peguasaan perilaku yang munculnya dalam proses kematangan.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah
sebagaimana tersebut di atas, masalah-masalah yang berkenaan dengan menumbuhkan
keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi dapat
diidentifikasi sebagai berikut :
1. Apakah
penggunaan metode belajar dapat meningkatkan, menumbuhkan keberanian,
kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi ?
2. Apakah
penampilan, gaya bicara seorang guru dapat memberikan motivasi yang bisa
menumbuhkan keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat
tinggi ?
3. Apakah
penggunaan media karet dapat menumbuhkan keberanian, kesenangan dan percaya
diri dalam pembelajaran lompat tinggi ?
4.
Apakah intensitas latihan dapat menumbuhkan
keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi ?
C. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah
sebagaimana tersebut di atas, banyak faktor yang dapat menumbuhkan keberanian,
kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi. Namun karena
keterbatasan waktu dan tenaga, dalam penelitian ini akan dibatasi pada masalah
penggunaan media karet untuk menumbuhkan keberanian, kesenangan dan percaya
diri dalam pembelajaran lompat tinggi di kelas IV SDN 1 Kalijati
Sesuai dengan pembatasan masalah
tersebut di atas, dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimanakah
penggunaan media karet dapat menumbuhkan keberanian, kesenangan dan percaya
diri dalam pembelajaran lompat tinggi secara efektif di kelas IV SDN Pandeglang
06 ?
2. Apakah
penggunaan media karet akan mendapatkan hasil yang baik untuk menumbuhkan
keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi di
kelas IV ?
3. Apakah
media karet dapat dijadikan salah satu alternatif untuk menumbuhkan keberanian,
kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi di kelas IV ?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan
rumusan masalah yang dibahas dalam penelitian tindakan ini maka tujuan yang
hendak dicapai adalah :
-
Menerapkan metode pembelajaran yang dapat disenangi
siswa sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik sesuai dengan apa
yang diharapkan.
-
Meningkatkan keberanian, kesenangan dan rasa percaya
diri bagi siswa belajar.
-
Meminimalkan kesulitan belajar melalui penggunaan
media pembelajaran yang disenangi siswa dengan bahan yang mudah didapat dan
murah.
-
Memperkenalkan media karet untuk menumbuhkan
keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi di
kelas IV SDN 1 Kalijati
F. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diperoleh
dalam pengunaan media karet dalam pembelajaran lompat tinggi adalah sebagai
berikut :
a. Bagi
guru : Bermanfaat untuk mempermudah dalam meningkatkan minat belajar khususnya
dalam pelajaran olahraga di SD dan lebih berpariatif dalam menggunakan media
pembelajaran.
b. Bagi
siswa : Bermanfaat bagi siswa yang kurang menyenangi dan kesulitan dalam
melakukan olahraga lompat tinggi yang manggunakan alat yang sebenarnya (standar).
c. Bagi
sekolah : - Dapat dijadikan acuan dan memotivasi guru lain yang belum
melaksanakan tindakan kelas.
-
Dapat dijadikan program tindak lanjut dalam
meningkatkan prestasi siswa dengan biaya yang murah dan mudah didapat.
-
Dapat dimasukan RAPBS pada program anggaran tahun
depan.
-
Dapat dijadikan motifasi guru bidang lain dalam
menciptakan media pembelajaran yang berfariatif untuk meningkatkan minat
belajar dan prestasi siswa guru dan sekolah.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Media Pembelajaran
Ketepatan penggunaan media
pembelajaran dalam menumbuhkan dan meningkatkan minat dan bakat siswa untuk
menerima pelajaran dan tidak membosankan dalam mengikuti pelajaran olahraga di
lapangan.
Sebagai penggunaan media karet untuk menumbuhkan
keberanian, kesenangan dan percaya diri, siswa diarahkan secara beragam dan
bertahap untuk lebih mampu menghadapi setiap rintangan mulai dari terendah
sampai standar tertinggi.
Pada periode umur 9-11 tahun dalam periode ini
pertumbuhannya lancar, otot-otot tumbuh cepat dan butuh latihan, postur tubuh
cenderung belum bagus, karena itu memerlukan latihan-latihan pembentukan tubuh.
Usia SD 9-11 tahun, penuh energi
tetapi mudah lelah timbul minat untuk mahir dalam suatu keterampilan fisik
tertentu dan permainan-permainan yang terorganisir tetapi belum siap untuk
mengerti peraturan yang rumit, rentang perhatian lebih mana.
Usia SD 9-11 tahun menyenangi
aktifitas yang dramatis, kreatif, imajinatif, ritmis, minat berprestasi
individu, kompetitif, punya idola, ini saat yang baik untuk mendidik moral dan
prilaku sosial yang baik. “Pedoman Pembinaan dan Pengembangan Olahraga Usia
Dini”. (DEPDIKNAS, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan
Taman Kanak-kanak SD Jakarta 2003).
Beberapa teori yang berhubungan
dengan penggunaan media pembelajaran untuk meningkatkan minat belajar siswa
yang sesuai dengan usia dan psikologi gerak.
Waharsono (2003)
Perkembangan dan belajar gerak Departemen Pendidikan
Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat
Pendidikan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar.
Sajoto (2003)
Bio mekanika, kondisi fisik sekolah biasa, Departemen
Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah,
Direktorat Pendidikan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar.
Gagne (1985:67)
Pembelajaran dapat dibagi ke dalam lima bagian :
(Intelectual skill, cognitive strategy, motor skill, dan attitude ). Gagne
menekankan pentingnya kondisi internal dan kondisi eksternal dan suatu
pembelajaran agar siswa memperoleh hasil belajar yang diharapkan. Dengan
demikian sebaiknya memperhatikan atau menata pembelajaran yang memungkinkan
mengaktifkan memori siswa yang sesuai agar informasi yang baru dapat diterima.
John Dewey
“Learning by doing” didukung oleh Rouseau, Pestalozi,
Frobel dan Montesory, mengemukakan bahwa aktivitas siswa dalam proses belajar
adalah aktivitas jasmani maupun mental yang digolongkan dalam 5 hal :
a.
Aktivitas Visual, seperti membaca, menulis, melakukan
eksperimen dan demonstrasi.
b.
Aktivitas Lisan (Oral Activitis), seperti bercerita, membaca
sajak, Tanya jawab, diskusi menyanyi.
c.
Aktivitas Gerak (Motoric Actifitis), seperti senam,
atletik, menari dan melukis.
d.
Aktivitas Mendengarkan (Listening Activities)
mendengakan penjelasan guru dan ceramah.
Aktivitas Menulis (Writen Activities
) seperti mengarang, membuat makalah.
Dari judul penelitian tindakan kelas
yaitu “Penggunaan media karet untuk menumbuhkan keberanian, kesenangan dan
percaya diri dalam pembelajaran lompat tinggi di kelas IV SD 1 Kalijati
B. Pengertian Keberanian
Keberanian berasal dari kata berani
= 1. Sifat batin ( hati ) yang tak takut menghadapi bahaya (kesulitan,
kesulitan dsb) tidak penakut misalnya orang tidak akan mundur mengahadapi
rintangan sesulit apapun. (Kamus B. Indonesia WJS. Poerwadarminta PN. BALAI
PUSTAKA Jakarta 1984).
Dari pendapat tersebut, dapat
penulis simpulkan bahwa keberanian adalah sifat batin yang dimiliki seseorang
yang tidakgentar atau mundur dalam menghadapi rintangan sesulit apapun.
C. Pengertian Kesenangan
Kesenangan berasal dari kata senang
: 1. (merasa puas, lega, tidak susah, tidak kecewa). Kesenangan : 2. (kepuasan
hati, kelegaan, kesukaan dsb). : 3. Keenakan, kenyamanan : 4 (kebahagiaan
hidup). (Kamus B. Indonesia WJS. Poerwadarminta PN. BALAI PUSTAKA Jakarta
1984).
Dari pendapat tersebut dapat
disimpulkan bahwa kesenangan adalah keadaan hati seseorang yang merasa puas,
nyaman, tidak tertekan dalam melakukan apapun.
D. Pengertian Percaya Diri
Percaya adalah : 1 ( menganggap,
mengakui, yakin) : 2 menanggap orang, (sesuatu) jujur, tidak jahat, tidak
berbahagia dsb misal : Ia, apapun, (tidak jahat, tidak berbahaya) boleh
diharapkan kebenarannya. (Kamus B. Indonesia WJS. Poerwadarminta PN. BALAI
PUSTAKA Jakarta 1984). Diri adalah : 1. Orang seseorang (terasing : diri yang
lain); badan misal : hikayat ku tak tahu-akan-nya nama (peng) ganti aku orang
benda (seperti, saimin, merapi-cicurug dsb). (Kamus B. Indonesia WJS.
Poerwadarminta PN. BALAI PUSTAKA Jakarta 1984).
Dari pendapat tersebut dapat
disimpulkan bahwa percaya diri adalah keyakinan yang tumbuh dari diri sendiri
akan kekuatan atau kemampuan yang ada pada diri sendiri.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Perencanaan Penelitian
Penelitian ini adalah jenis
Penelitaian Tindakan Kelas (PTK) yang membahas masalah penggunaan media karet
untuk menumbuhkan keberanian, kesenangan dan percaya diri dalam pembelajaran
lompat tinggi di kelas IV SDN 1 Kalijati
Subjek penelitian ini adalah siswa
kelas IV SDN Pandeglang 06 Kec. Pandeglang tahun ajaran 2008/2009 dengan jumlah
siswa sebanyak 45 siswa, ada dua variabel yang akan diungkapkan dalam
penelitian ini yaitu :
a.
Variabel kemampuan siswa melewati rintangan (lompatan)
dengan menggunakan alat lompatan standar yang biasa dipakai untuk lomba.
b.
Variabel kemampuan siswa melewati rintangan (lompatan)
dengan menggunakan media karet.
Prosedur penelitian tindakan kelas
ini terdiri dari dua siklus, tiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan
tindakan observasi dan refleksi.
Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan
menggunakan teknik observasi, wawancara dan angket untuk data kualitatif dan
penilaian hasil tes pembelajaran siswa sebagai data kuantitatif.
Untuk keperluan analisis data
kuantitatif diperoleh dari hasil tes perbuatan dalam proses pembelajaran yang
dilakukan dua kali penilaian terhadap materi olahraga (lompat tinggi).
Dalam prakteknya penelitian tindakan
kelas adalah tindakan yang bermakna melalui prosedur penelitian yang mencakup
empat langkah yaitu :
-
Merumuskan masalah dan merencanakan tindakan.
-
Melaksanakan tindakan (getting)
-
Pengamatan
-
Merepleksikan hasil pengamatan.
Adapun empat langkah prosedur
penelitian kelas yang dapat dilaksanakan yaitu perencanaan tindakan,
pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Empat langkah utama yang saling
berkaitan itu dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas sering disebut dengan
siklus. Hal tersebut sebagaimana dikemukakan Suharsisi, Suhardjono dan Supardi
(2006:16)
1)
Perencanaan (Planning )
Kegiatan perencanaan mencakup (1)
identifikasi masalah (2) analisis peyebab adanya masalah, dan (3) pengembangan
bentuk tindakan (aksi) sebagai pemecahan masalah. Untuk keperluan identifikasi
masalah dalam penelitian tindakan kelas ada beberapa hal yang harus
diperhatikan yaitu :
Masalah harus benar-benar terjadi dan dirasakan oleh
guru pada saat melaksanakan tugas, sebagai contoh setelah diberikan tugas awal
diperoleh data bahwa :
(1) Sebagian
besar siswa (70%) tidak mampu melakukan lompatan setinggi 70 cm dalam
pembelajaran lompat tinggi.
(2) Tingkat
kemampuan siswa terhadap keberanian, kesenangan dan percaya diri (75%) siswa
belum mencapai batas ketuntasan, yaitu nilai 60. Masalah-masalah pembelajaran
di lapangan seperti inilah yang bisa digolongkan sebagai masalah nyata karena
didukung dengan data yang betul-betul dapat dipertanggung jawabkan dan dipuyai
oleh guru.
(3) Problematik,
artinya masalah perlu dipecahkan berkaitan dengan tanggung jawab, kewewenangan
dan tugas seorang guru. Karena tidak semua masalah pembelajaran yang terjadi
secara nyata (riil) bisa dikategorikan sebagai masalah problematik, misalnya,
meskipun mayoritas siswa tidak lancar membaca teks bahasa inggris. Masalah ini
kurang problematik bagi guru penjaskes.
(4) Memiliki
manfaat yang jelas, artinya pemecahan masalah yang dilakukan akan memberikan
manfaat yang jelas bagi siswa dan guru karena ada kemungkinan kalau masalah
tidak segera diatasi akan mengganggu penguasaan kompetensi berikutnya dalam
proses pembelajaran yang mempunyai sifat berkesinambungan.
(5) Dapat
dipecahkan oleh guru selaku pelaksanaan penelitian tindakan kelas. Setelah guru
menemukan masalah, perlu segera melaksanakan langkah identifikasi penyebab
munculnya masalah.
2)
Tindakan (Acting)
Untuk menentukan bentuk tindakan
(aksi) yang dipilih perlu mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan sebagai
berikut :
Apakah tindakan (aksi) yang dipilih
telah mempunyai landasan berpikir yang mantap, baik secara kajian teoritis maupun
konsep?
Apakah alternative tidakan (aksi) yang dipilih
dipercayai dapat menjawab permasalahan yang muncul?
Bagaimanakah cara melaksanakan
tindakan dalam bentuk langkah-langkah setiap siklus dalam proses pembelajaran
di lapangan?
Bagaimana cara menguji tindakan
sehingga dapat dibuktikan telah terjadi perbaikan kondisi dan peningkatan
proses dalam kegiatan pembelajaran di lapangan yang diteliti?
Jawaban dari seluruh pertanyaan di
atas adalah hipotesis tindakan yakni alternatif tindakan yang dipandang paling
tepat atau dipercaya oleh peneliti akan mampu memecahkan masalah yang sedang
dihadapi. Setelah ditetapkan bentuk tindakan. yang dipilih sesuai dengan
rencana pelaksanaan tindakan, maka langkah selanjutnya adalah
mengimplementasikan dalam proses pembelajaran sesuai dengan scenario
pembelajaran yang sudah dibuat oleh guru.
3)
Observasi
Kegiatan observasi atau pengamatan
dalam penelitian tindakan kelas dilakukan untuk mengetahui dan memperoleh
gambaran lengkap secara objektif tentang pengembangan proses pembelajaran dan
pengaruh dari tindakan yang dipilih terhadap kondisi kelas dalam bentuk data.
Data yang dihimpun melalui pengamatan (observasi) ini meliputi data kuantitatif
dan kualitatif sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan. Pengambilan data
harus bersifat keseluruhan data, tidak haya menggunakan satu instrumen saja.
Kegiatan pengambilan data dapat dilakukan diantaranya dengan cara :
Observasi atau pengamatan (nontes),
bagaimana anak mempersiapkan alat dan bahan ? dan bagaimana mengunakan alat ?
serta bagaimana sikap anak ketika mengejarkan tugasya ?
a.
Wawancara (nontes) dengan beberapa orang anak yang
berbeda tingkat penguasaan pada pelajaran lompat tinggi dilakukan secara lisan.
b.
Angket (not-tes) sejumlah pertanyaan yang harus
dijawab oleh siswa secara tertulis yang berguna untuk mengungkapkan tanggapan
balik siswa dan dampak dari aktifitas tindakan selama proses pembelajaran
berlangsung.
c.
Dokumentasi (nontes) gambar atau foto proses belajar
mengajar.
d.
Nilai ulangan (nontes) penelitian hasil tugas yang
dilakukan guru.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam pengambilan data berkaitan dengan observasi ini adalah :
Jenis data yang dihimpun memang
diperlukan dalam rangka implementasi tindakan perbaikan.
Indikator-indikator yang ditetapkan
harus tergambarkan pada perilaku siswa dan guru secara terukur.
-
Kesesuaian prosedur pengambilan data.
-
Pemanfaatan data dalam analisis dan refleksi.
4)
Refleksi
Refleksi dilakukan untuk mengadakan
evaluasi yang dilakukan guru dan tim pengamat dalam penelitian tindakan
lapangan. Refleksi dilakukan dengan cara berdiskusi terhadap berbagai masalah
yang muncul di lapangan. Penelitian yang diperoleh dari analisis data sebagai
bentuk dari pengaruh tindakan yang telah dirancang pada kegiatan refleksi ini
juga ditelaah aspek-aspek mengapa, bagaimana, dan sejauh mana tindakan yang
dilakukan mampu memperbaikan masalah secara bermakna. Berdasarkan
masalah-masalah yang muncul pada refleksi hasil perlakukan tindakan pada siklus
pertama maka akan ditentukan oleh peneliti apakah tindakan yang dilaksanakan
sebagai pemecahan masalah sudah mencapai tujuan atau belum. Melalui refleksi
inilah maka peneliti akan menentukan keputusan untuk melakukan siklus lanjutan
ataukah berhenti karena masalahnya telah terpecahkan. Misalnya target yang
telah ditetapkan anak harus mendapat nilai 70 ternyata hasil pada siklus 1 baru
mencapai 60 maka perlu dilakukan tindakan perbaikan siklus II.
Metode penelitian yang dilaksanakan
di SDN 06 Pandeglang kelas IV ini menggunakan rancangan penelitian tindakan
kelas (PTK) yang terdiri atas dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari :
a. Perencanaan tindakan
b. Pelaksanaan tindakan
c. Observasi dan refleksi
Dalam hal ini untuk memudahkan
penulisan secara rinci penulis akan menetapkan pokok-pokok rencana kegiatan
sebagai berikut :
Siklus I Perencanaan :
• Merencanakan pembelajaran yang akan ditetapkan dalam
PBM
• Menentukan pokok bahasan
• Mengembangkan skenario pembelajaran
• Menyusun lembar pengamat
• Menyiapkan sumber belajar
• Mengembangkan format observasi pembelajaran
Tindakan 1 :
• Menerapkan
tindakan yang mengacu dalam skenario yang direncanakan dalam lembar pengamatan
dan RPP lembar penilaian.
Pengamatan :
• Melakukan
pengamatan pada waktu PBM berlangsung dengan menggunakan alat ukur berupa lembar
pengamatan dan evaluasi (daftar nilai)
Refleksi 1 :
• Melakukan evaluasi tindakan telah dilakukan,
meliputi evaluasi mutu, jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan.
• Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil
evaluasi untuk digunakan pada siklus berikutnya.
Siklus II Perencanaan :
• Mencatat masalah yang dihadapi siswa dalam proses
pembelajaran di lapangan.
• Merencanakan program tindakan yang akan diambil
(dilakukan) dalam proses pembelajaran berikutya.
Tindakan :
• Melaksanakan alternatif tindakan pembelajaran yang
mengacu pada RPP dan lembar pengamatan.
Pengamatan :
• Mengolah data hasil pengamatan dalam pembelajaran di
lapangan.
Refleksi :
• Melakukan evaluasi dari hasil tindakan dari
pengamatan proses pembelajaran.
Perencanaan siklus I :
RPP siklus I
Instrumen : Format lembar pengamatan pembelajaran
siswa siklus I
Instrumen : Format rumusan observasi siklus 1
Instrumen : Format rumusan penilaian siklus 1
Perencanaan siklus II :
RPP siklus II
Instrumen : Format lembar pengamatan pembelajaran
siklus II
Instrumen : Format rumusan observasi pembelajaran
siklus II
Instrumen : Format rumusan penilaian (evaluasi) siklus
II
Instrumen : Format rumusan observasi pembelajaran
siklus II
Kesimpulan dan saran.
B.
Pelaksanaan Penelitian
1. Subjek, tempat dan waktu Penelitian
Subyek
: Siswa Kelas IV SDN 06 Pandeglang berjumlah 46 orang
Tempat
: SD Negeri Pandeglang 06 Kecamatan Pandeglang
Waktu
: Bulan Februari Minggu ke-2 tahun 2008
Lama
tindakan : + 2 bulan
2. Prosedur Langkah-langkah Penelitian
a. Metode Penelitian
Sederhana
apapun penelitian, pembahasan metode tidak boleh dilupakan, karena bagian ini
menjelaskan uraian langkah-langkah penelitian yang dapat memberikan informasi
tentang rencana dan pelaksanaan tindakan yang mengambarkan unsur-unsur sebagai
berikut :
1)
Setting penelitian, tempat dimana penelitian dilaksanakan.
2)
Sasaran penelitian.
3)
Desain penelitian yaitu rancangan tentang langkah-langkah tindakan.
4)
Pengumpulan data secara lengkap dengan jenis instrumen yang dipakai.
5)
Analisis data dan refleksi.
Metode
yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah metode ilmiah dengan
langkah-langkah sebagai berikut :
Siklus
Pertama :
1.
Perencanaan : identifikasi masalah dan alternative pemecahan masalah.
a.
Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam
kegiatan belajar.
b.
Menentukan pokok bahasan.
c.
Mengembangkan skenario pembelajaran
d.
Menyusun Lembar Kerja Siswa
e.
Menyiapkan sumber belajar.
f.
Mengembangkan format evaluasi
g.
Mengembangkan format observasi pembelajaran.
2.
Tindakan : menerapkan tindakan mengacu pada skenario
3.
Pengamatan (observasi)
a.
Melakukan observasi dengan memakai format observasi
b.
Menilai hasil tindakan
4.
Refleksi
a.
Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan meliputi
evaluasi mutu, jumlah dan waktu dari setiap tindakan.
b.
Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi yang
digunakan pada siklus berikutnya.
5.
Evaluasi tindakan
a.
Perencanaan / identifikasi masalah dan alternative
pemecahan masalah.
b.
Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam
kegiatan belajar mengajar.
Siklus
Kedua :
1.
Perencanaan
a.
Identifikasi masalah dan penetapan alternatif
pemecahan masalah.
b.
pengembangan program
2. Tindakan : Pelaksanaan program tindakan II
3. Pengamatan : Pengumpulan data
4. Refleksi : berdasarkan masalah-masalah yang muncul
pada siklus pertama, maka akan memutuskan untuk melakukan silkus lanjutan yaitu
Evaluasi tindakan II.
1.
Tim Peneliti dan Pembagian Tugas
Tim
peneliti terdiri dari penulis sebagai ketua peneliti, teman sejawat dan kepala
sekolah.
2.
Pembagian Tugas
a.
Ketua Peneliti bertugas sebagai :
-
Menentukan langkah-langkah pemecahan masalah
-
Menganalisis penyebab munculnya masalah
-
Merumuskan masalah, serta
-
Mengembangkan alternatif tindakan
b.
Teman sejawat bertugas sebagai teman untuk
berkolaborasi atau bekerja sama untuk mengamati proses belajar mengajar di
kelas dan teman berdiskusi.
c.
Kepala sekolah sebagai pengamat dan tempat untuk
berkonsultasi.
Dalam pelaksanaan proses pembelajaran penulis
menggunakan lembaran pengamatan sebagai bahan acuan dalam penelitian tindakan
kelas di kelas IV SDN 1 Kalijati
Berikut ini adalah salah satu alat ukur keberhasilan pengunaan metode
pembelajaran sebelumnya dan metode pembelajaran yang dimodifikasikasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar