Pengertian Perkembangan Motorik
Menurut Hurlock (1998)
– perkembangan motorik: perkembangan pengendalian gerak jasmaniah
melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot
yang terkoordinasi. Pengendalian berasal dari perkembanganrefleksi dan
kegiatan massa yang ada pada waktu lahir.
Menurut Sugiyanto dan
Sudjarwo (1992) – perkembangan: proses perubahan kapasitas
fungsional atau kemampuan kerja organ-organ tubuh ke arah keadaan
yang makin terorganisasi dan terspesialisasi.Perkembangan terjadi dalam bentuk
perubahan kualitatif, kuantitatif atau kedua-duanya secara
serempak. Perkembangan gerak “motor development”: suatu
proses sejalan dengan bertambahnya usia – secara bertahap
dan bersinambung gerakan individu meningkat dari sederhana, tidak
terorganisasi, tidak terampil – keterampilan gerak yang kompleks dan
terorganisasi dengan baik – penyesuaian keterampilan –
proses penuaan.
Menurut Zulkifli
(2001) - perkembangan motoris: gerakan-gerakan tubuh yang dimotori dengan
kerjasama antara otot, otak dan saraf. Ciri-ciri gerakan
motoris: gerak dilakukan dengan tidak sengaja, tidak ditujukanuntuk
maksud-maksud tertentu. Gerak yang dilakukan tidak sesuai untuk mengangkat
benda dan gerak serta.
Menurut Keogh –
perkembangan gerak: perubahan kompetensi atau kemampuan gerak dari mulai
bayi (infancy) sampai masa dewasa (adulthoud) serta melibatkan
berbagai aspek perilaku manusia, kemampuangerak dan aspek perilaku yang ada
pada manusia mempengaruhi perkembangan gerak dan perkembangan gerak
sendiri mempengaruhi kemampuan dan perilaku manusia.
Perkembangan Motorik
Studi mengenai pertumbuhan dan perkembangan manusia telah lama menarik
perhatian para pakar dalam bidang psikologi dan pendidikan. Pengetahuan
mengenai proses perkembangan merupakan inti daripada pendidikan. Tanpa
pengetahuan tentang aspek-aspek perkembangan prilaku manusia, guru/pelatih
hanya dapat menduga jenis taknti dan intervensi apa yang akan digunakan dalam
mengembangkan keterampilan. Walaupun sejumlah studi telah dilakukan berkaitan
dengan aspek-aspek perkembangan prilaku motorik namun masih sangat terbatas
jika dibandingkan dengan studi mengenai proses perkembangan.
Para pakar dalam bidang psikologi perkembangan cenderung tertarik meneliti
perkembangan motorik hanya sebagai suatu indikator visual dari fungsi-fungsi
kognitif. Sedangkan para pakat dalam bidang psikologi sosial dan emosional.
Studi perkembangan motorik dipelajari sebagai lintas bidang dari fifiologi
latihan, bio mekanik, perilaku motorik, dan kontrol motorik baik sebagai
psikologi perkembangan maupun sosiologi. Tahun 1970 banyak riset dilakukan
berkaitan dengan perkembangan motorik. Dan sejak saat itu studi ini menjadi
bidang yang diminati para peneliti dalam bidang pendidikan jasmani dan
psokologi.
Sayangnya proses perkembangan manusia hanya dipelajari dari salah satu
aspek saja sehingga terjadi ketidaksempurnaan pandangan mengenai pertumbuhan
dan perkembangan. Perkembangan dipelajari dalam pengertian ranah (kognitif,
afektif, psikomotor) hubungan antara usia dan perilaku (masa bayi, masa
kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, usia pertengahan dan usia lanjut) dan
dari sifat-sifat biologis atas pengaruh suatu lingkungan.
Studi pekrmbangan motorik hendaknya ditinjau dari perspektif manusia secara
utuh baik meliputi aspek-aspek biologis maupun lingkungan mencakup perilaku
kognitif dan afektif yang berdampak pada perkembangan. Jika semua itu mempunyai
nilai nyata bagi pelaksana (guru/pelatih) maka studi perkembangan motorik tidak
hanya terfokus kepada penampilan keterampilan-keterampilan dalam mengontrol
lingkungan tetapi juga harus menganalisis dan mendokumentasikan apakah setiap
individu pada semua usia dalam keadaan itu dapat melakukannya dengan normal
atau tidak.
Studi Tentang Proses
Perkembangan Gerak
Perkembangan merupakan suatu proses yang berlangsung terus menerus, berawal
saat konsepsi dan berakhir pada saat kematian.Perkembangan merupakan sebuah proses yang terus menerus yang dimulai dengan masa pembuahan (antara sperma
dan ovum) dan berhenti hanya dengan kematian.
Perkembangan mencakup semua aspek perilaku manusia karena itu hanya dapat
dipisahkan secara artificial ke dalam domain-domain, kategori atau periode
usia. Pengakuan terhadap konsep perkembangan “lifespan” yang semakin luas
mendorong para peneliti melakukan studi tentang keterampilan atlet pada masa
adolensia dan dewasa dan juga studi tentang gerakan pada masa bayi, masa
kanak-kanak, dan usia lanjut. Banyak hal yang dapat diketahui dengan
mempelajari perkembangan motorik pada semua tingkat usia dengan memandangnya
sebagai suat proses uang berkesinambungan.
Setiap individu mempunyai masa perkembangan dan masa pencapaian kemampuan
gerakan yang spesifik dan unik. Periode usia hanya menunjukan rentang perkiraan
waktu saat mana perilaku-perilaku tertentu menonjol. Perkiraan yang berlebihan
pada periode waktu ini akan mengurangi makna tentang kontinuitas, kespesifikan,
dan individualitas daripada prose perkembangan.
Demikian pula
halnya dengan studi tentang keterampilan atlet selama masa remaja dan atau dewasa menjadi sangat penting. Oleh karena itu perlunya mempelajari gerak manusia selama masa
bayi, anak-anak, dan kehidupan selanjutnya merupakan suatu tuntutan
Perkembangan gerak pada
seluruh jenjang usia akan mengalami peningkatan apabila dilakukan melalui
proses pembelajaran seperti dalam pembelajaran pendidikan
jasmani di sekolah-sekolah. Proses perkembangan ini akan terus berlangsung seiring dengan
bertambahnya umur.
Keterlibatan berbagai
faktor kemampuan gerak dan kemampuan fisik satu sama lain
berin teraksi dengan cara yang sangat kompleks.Terutama terkait
dengan kemampuan kognitif dan afektif mereka.Masing-masing kemampuan tersebut
akan dipengaruhi oleh factor biologisdan
lingkungannya. Pengaruh dari faktor biologis ini
biasanya terjadi
saat terjadinya pembuahan yang mengh
asilkan benih manusia (zygote) yang kemudian berkembang
menjadi organ isme atau janin sebagai calonmanusia yang
dikenal sebagai fetis atau
bayi dalam kandungan. Faktor biologis ini
secara tidak langsung dipengaruhi pula oleh makanan yang ibu
makan saat mengandung, perawatan pada ibu, dan
proses kelahiran.
Pengaruh dari faktor lingkungan dimana faktor ini merupakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya proses perkembangan. Faktor lingkungan ini memiliki
beberapa aspek seperti:
1. Alamiah sosial dimana bentuk
pergaulan, tingkat sosial, tingkat ekonomi,
bentuk daerah tempat tinggal
member andil dalam terbentuknya sikap kognitif dan afektif individu.
2. Budaya dimana kebiasaan dalam konteks keluarga
dan diluar keluarga akan memberi warna terhadap perilaku individu.
Jadi, dalam
proses perkembangan gerak secara
konstan seharusnya mengingatkan individu. Setiap individu
memiliki keunikan tersendiri dalam hal
perkembangan dan kemahiran akan kemampuangerak. Ada beberapa
teori yang mengungkapkan mengenai keunikan itu.
Salah satu diantaranya adalah Gallahue. Pada tahun 1989
Gallahue pernahmemaparkan mengenai keterkaitan lingkungan
belajar dan satu dengan
lainnya dalam proses perkembangan gerak sebagai berikut.
Sejarah Mengenai Bidang Studi Perkembanagan Gerak
Usaha awal dalam studi perkembangan motorik
anak-anak telah dimulai sejak tahum 1930-an oleh Bayley, Gessel dan Thompson
(1934), Mc Graw (1935) dan Sherly (1931). Terdorong oleh perhatian merekan
terhadap hubungan kematangan dan belajar pekrembangan kognitif, maka studi
perkembangan motorik pada bayi dilakukan. Setelah mengamati sifat perkembangan
normal penguasaan gerakan-gerakan rudimentari hingga pola perilaku yang matang,
merekan sampai pada kesimpulan walaupun kecepatan anak-anak mencapai kemampuan
gerakan agak berbeda-beda hasil studi menunjukan bahwa pemerolehan kemampuan
bergerak berdifat universal dan sergam.
Hasil studi yang dilakukan oleh Gessel dan Thompson (1929) dan Mc Graw
(1935) dengan menggunakan metode Control Co-Twin menunjukan bahwa
ada perbedaan pengaruh latihan umum dan latihan khusus terhadap pemerolehan
berbagai kemampuan gerakan. Studi yang dilakukan Monica Wild (1938) mengenai
perilakuu memlempat menandai awal penelitian mengenai pola-pola perkembangan
gerakan pada anak-anak. Sayangnnya, setelah itu kegiatan penelitian mengenai
berbagai aspek yang berkaitan dengan perkembangan motorik pada anak-anak
menurun hingga tahun 1960-an kecuali disertasi Dorothy deach (1951) yang tidak
dipublikasikan.
Sejak tahun 1960 studi perkembangan motorik kembali marak antara lain
dengan adanya penelitian Helverson bersama beberapa mahasiswanya di Universitas
Wisconsin mengenai penguasaan kemampuan gerakan fundamental pada anak-anak dan
mekanisme yang mengatur penguasaan dan pengembangan keterampilan itu.
Secara singkat sejarah
mengenai perkembangan gerak telah dipublikasikan beberapa tahun
silam. Keogh dan Thomas menjelaskan bahwa studi tentanag
perkembangan gerak telah muncul
sekitar tahun 1920 hingga 1930 oleh para dokter
yang tertarik
dengan skala perkembangan kemajuan manusia
sejak bayi.
Para ahli percaya bahwa perkembangan gerak mulai sejak usia bayi. Dimasukan dalam kelompok
ini adalah Darwin tahun 1877 yang telah menulis uraian singkat
tentang riwayat
hidup dari seorang bayi, sedangkan Shin tahun 1900 telah menulis mengenai biografi seorang bayi.
Para ahli
setuju bahwa temuan Darwin dan Shin telah memberikan pengaruh
terhadap kemajuan ilmu
perkembangan gerak, namun pada tahun 1987
dimana observasi yang yang dilakukan Tiedemann kepada
anaknya sendiri yang berusia 2 tahun telah
menjadi tonggak awal periode½ sejarah perkembangan
motorik yang oleh Clark dan Whitall dinamakanperiode pendahuluan (precursor
period) dalam perkembangan gerak.
Clark dan Whitall
memaparkan bahwa periode dalam sejarah perkembangan gerak dapat dibagi ke
dalam empat periode yaitu sebagai berikut:
1. Periode pendahuluan tahun 1787-1928, dimana observasi
deskriptif yang dilakukan oleh para peneliti ditetapkan sebagai
sebuah metode untuk mempelajari perkembangan manusia.
2. Periode kematangan
tahun 1928-1946, dimana perkembangan gerak mulai muncul dan
proses biologis merupakan pengaruh utama dalam membentuk perkembangan
manusia.
3. Periode
normative/deskriptif tahun
1946-1970, dimana pada pertengahan tahun
1940 minat terhadap kajian perkemb angan gerak menjadi memudar
dan mampu bangkit kembali pada awal tahun 1960. Kebangkitan kembali
terhadap kajian perkembangan gerak ini diprakarsai oleh
guru pendidikan jasmani yangberminat terhadap perkembangan gerak anak
didiknya sehingga memunculkan teori Kephart.
Lahirnya teori Kephart
diawali den gan persoalan yang dihadapinya di dalam kelas
terhadap anak-anak yang lamban dalam belajar.
Kephart memberikan beberapa bentuk aktivitas
gerak fisik kepada mereka dengan maksud agar
para siswa tersebut bias berubah akansikap dan kemampuannya dalam
belajar. Disini Keph art telah mengeluarkan pernyataan bahwa secara
pasti aktivitas gerak telah terbukti meningkatkan kemampuan dan performa
akademik.
Hingga saat ini teori
Kephart masih tetap digunakan oleh para professional
dalam pengajaran. Kephart secara umum dipercayai
dengan inisiatifnya yang menekankan bahwa para
pendidik cenderung menempatkan pada aktivitas gerak untuk meningkatkan
performa dankemampuan akademik para siswa. Dia menyakini bahwa
rendahnya kemampuan belajar adalah akibat integrai panca indra yang lemah. Integrasi
panca indra merupakan langkah
kritis dalam proses persepsi gerak.
Kephart juga meyakini
bahwa proses umpan balik perlu untuk mengoreksi kesalahan gerak
dan dapat menyempurnakan gerak
lainnya pada masa yang akan
dating. Kephart berteori bahwa partisipasi dalam
bentuk gerak dasar akan membantu integrasi panca indra dan
masalah umpan balik. Oleh karena itu meningkatnya kemampuan
belajar anak seperti kemampuan membaca dan kemampuan kognitif
lainnya.
Metode
Terdapat dua cara utama meneliti perkembangan motorik yaitu studi
longitudinal dan studi cross-sectional. Oleh karena studi perkembangan motorik
meliputi studi mengenai perubahan-perubahan yang terjadi dalam perilaku
motorik, maka metode longitudinal merupakan metode yang ideal. Yang dimaksud
metode longitudinal adalah cara menyelidiki anak dalam waktu yang lama. Sebagai
ilustrasi, seorang yang diikuti perkembangannya sejak lahir hingga meninggal
atau menyelidiki sese orang untuk sebagian waktu hidupnya, misalnya selama masa
kanak-kanak. Dengan metode ini biasanya diselidiki beberpa aspek perilku pada
satu atau dua orang yang sama selam beberapa tahun, misalnya 5 hingga 10 tahun.
Dengan demikian akan diperoleh gambaran perkembangan tersebut secara
menyeluruh.
Keuntungan metode longitudinal adalah bahwa proses perkembangan dapat
diikuti dengan teliti. Namun kerugiannya adalah peneliti sangat tergantung pada
orang yang diselidiki dalam waktu yang cukup lama. Hal ini sering kali
menimbulkan kesulitan seperti tingkat dropout tinggi yang disebabkan orang yang
diteliti pindah, sakit atau meninggal.
Metode studi cross-sectional atau metodel tranversal adalah cara dimana
peneliti mengumpukan data dari sekelompok orang yang berbeda dengan tingkat
usia bervariasi pada waktu yang sama. Meskipun metode ini hanya menghasilkan
perubahan-perubahan individu, asumsi-asumsi dasarnya adalah bahwa penelitian
subjek secara acak akan memebrikan sample representatif dari populasi untuk
setiap kelompok yang diuji. Studi0studi cross-sectional hany dapat membedakan
tipe perilaku pada tingkat usia tertentu yang sedang diteliti. Banyak sekali
studi perkembangan motorik menggunkan metode ini dengan alasan bahwa metode ini
lebih sederhana dan lebih langsung kesasaran. Salin itu data yang terkumpul
melalui studi longitudinal pada umumnya mendukung hasil penemuan dari studi
cross-sectional walaupun efek-efek pemblejaran atas suatu performans yang
dilakukan berulang-ulang masih tampak (Wckstorm, 1977).
Untuk mempelajari perkembangan motorik, metode longitudnal dan
cross-sectional dapat diaplikasikan dalam berbagai format penelitian. Suatu
penelitian dapat berbentuk studi eksperimental atau dapat menggunakan metode
cross-sectional melalui pengamatan naturalistik, survei, wawancara, laporan,
studi kasus, atau ggabungan dari metode-metode tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir ini banyak peneliti dalam bidanga psikologi
perkembangan dan perkembangan motorik melakukan penggabungan disain peneliti
longitudinal dan cross-sectional meneliti beberapa kelompok selam beberapa
tahun, tetapi dengan membuat pengelompokan sedemikian rupa hingga ada keadaan
saling menutupi dalam faktor usia. Seabagi ilustrasi. Satu kelompok terdiri
dari anak-anak usia 12, 13 dan 14 tahun, kelompok lainnya berusian 15, 16 dan
17 tahun. Sifat longitudinalnya ada dalam mengikuti kelompok lainnya tadi
selama tiga tahun berturut-turut, sedangkan cross-sectionalnya dapat dilakukan
dengan membandingkan usia 14 tahun yang saling menutupi tadi mengenai beberapa
prilaku tertentu. Metode ini sering disebut “ Mixed Longitudinal”\ Method”.
Methode ini menggabungkan aspek-aspek terbaik dari metode longitudninal dan
metode cross-sectional untuk membedakan dan menjelaskan perubahan-perubahan dan
perkembangan motorik (Scale dan Baltes, 1970)
Metode yang lain yang disebut “Time-lag” membandingkan orang-orang dari
usia yang sama tetapi bersal dari kohort yang berbeda-beda. (Kohort artinya
kelompok orang yang lahir dalam tahun yang sama. Schle (1965) menunjukan
pentingnya observasi yang dilakukan berulang-ulang dan tidak tergantung satu
sama lainnya sehingga orang-orang dari kohort yang sam diobservasi, misalnya
dua kali.
Selama bertahun-tahun telah terjadi pergeseran dalam studi perkembangan
motorik anak-anak yaitu dari proses ke produk dan kini kembali ke proses. Para
peneliti terdahulu menegaskan pentingnya studi proses gerakan yakni bentuk dan
fungsi. Halverson (1937), Shirley (1931) dan Wild (1938) sama-sama menegaskan
bahwa penelitian yang terpenting adalah pada penguasaan pola-pola gerakan.
Saram-saran mereka bertalian dengan penelitian proses perkembangan keterampilam
mototrik banyak digunakan hingga tahun 1960-an.
Wickstrom (1997) mengindikasikan bahwa “ada satu hubungan positif tetapi
bukan hubungan kausal antara proses dan produk”. Faktor-faktor yang
mempengaruhi performans seperti kekuatan, kecepatan gerakan, agilitas atau
kelincahan, koordinasi dan waktu reaksi mempunyai dampak pada kemampuan
performans tetapi tidak bisa mempengaruhi proses sampai pada kadar yang
signifikan.
Banyak manfaat yang dapat kita peroleh dari penelitian perkembangan
penelitian pada bayi dan anak-anak. Bila informasi yang dikumpulkan secara
berangsur-angsur itu diperbanyak, kita akan mendapatkan gambaran yang telah
akurat mengenai proses yang dilalui melalui perkembangan motorik anak-anak.
Usaha-usaha penelitian yang menggunakan pendekatan longitudinal dan
cross-longitudinal, yang menekankan kepada proses dan performans dapat memberi
kontribusi yang cukup berarti bagi pemahan tetang perkembangan motorik.
Klasifikasi Usia Perkembangan dapat dilakukan dalam berbagai cara. Metode
yang paling populer namun cukup akurat adalah klasifikasi berdasarkan usia
kronologis. Usia kronologis, merupakan usia seseorang dalam bulan atau tahun,
mungkin merupakan teknik yang paling populer karena penggunaanya yang universal
dan secara konstan mewakili bagi semua orang, dengan mengetahui tanggal lahir
seseorang denga mudah kita dapat menghitung usia dalam tahun, bulan atau hari.
Usia biologis dari setiap individu memberi suatu catatan tentang kecepatan
kemajuannya mencapai kematangan, ini merupakan variabel usia yang mempunyai
hubungan secara kasar dengan usia kronologis dan dapat ditentukan melalui
pengukuran usia morfologis, usia skeletal, usia dental dan usia seksual.
Usia morfologis adalah suatu perbandingan yang dicapai seorang (tinggi dan
berat badan) dengan huruf standar normatif. Ukuran normatif telah ditentukan
oleh Wetzel (1948) melalui pemetaan secara mendalam terhadap tinggi dan berat
badan ribuan idividu. Wetzel G. (1948) telah digunakan selama bethaun-tahun
oleh para dokter anak sebagai cara utama dalam menentukan usia morfologis para
pasien mereka. Walaupun kini jarang digunakan karenan adanya
perubahan-perubahan sekuler dalam tinggi dan berat badan, namun cara Wetzel
pada suatu saat merupakan metode yang paling populer untuk menetukan usia
morfologis
Usia skeletal memberikan suatu catatan mengenai usia morfologis dari
kerangka yang sedang berkembang. Usia skeletal dapat ditentukan seacara ceramat
melalui sinar X pada tulang-tulang carpel pada tangan dan pergelangan tangan.
Usia dental merupakan suatu cara lainnya yang akurat tetapi jarang digunkan
dalam menentukan usia biologis.
Usia seksual merupakan metode keempat yang dapat digunakan untuk menetukan
usia biologis. Kematangan seksual ditentukan berdasarkan pencapaian variabel
karakteristik-karakteristik kelamin primer dan sekunder. Walaupun metode
kematangan biologis, namun jarang digunakan karena pertimbangan faktor-faktor
sosial budaya.
Disamping metode-metode yang telah dikemukakan, terdapat pula berbagai
metode yang lain yang dapat digunkan dalam mengklasifikasikan perkembangan
usisa, seperti pengukuran usia emosional, usia mentalm usia konsep diri dan
usia persepsual. Usia emosional adalah suatu ukuran sosialitas dan kemampuan
seseorang untuk berfungsi dalam suatu lingkungan tertantu. Usia mental mengacu
kepada potensi mental seseorang sebagai suatu fungsi baik dari belajar maupun
intelegensi. Usia konsep diri adalah suatu ukuran tentang pandangan seseorang
terhadap dirinya sendiri dan sering kali befluktuasi dalam usia hidup
seseoranga. Usia persepsual merupakan suatu penelitian tentang kecepatan
tingkat perkembangan persepsual seseorang. Semua ukuran kematangan sifatnya
berubah-ubah dan semuanya berkaitan dengan usia kronologis, tetapi tidak bergantung
kepadanya.
Merancang Penelitian dalam Perkembangan
Gerak: Cross-Sectional danLongitudinal
Secara umum ada dua
rancangan penelitian yang telah dilakukan dalam studi
perkembangan gerak. Pada rancangancros-sectional, subyek
dari berbagai perlakuan atau kelompok umur yang di uji dengan
alat ukur yang sama pada waktu yang sama. Contoh, untuk perkemb
angan tekhniktulis tangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa.
Tiga kelompok dari subyek itu dapat
digunakan. Satu kelompok terdiri dari anak-anak yang berusia
7-9 tahun. Kelompok kedua adalah remaja yang berusia 13-15 tahun.
Dan kelompok ketiga mencakup orang dewasa
yang berumur 25-27 tahun. Semua subyek akan diuji dan diukurdengan
tugas menulis tangan. Seiring dengan adanya perbedaan antara kelompok akan
dicatat.
Untuk rancangan longitudinal,
satu kelompok subyek diobservasisecara berulang-ulang
yang berbeda pula.
Jadi dalam hipotesisnya akan dimulai dengan subyek
anak secara periodik diuji teknik menulis tangann ya hingga mereka mencapai usia
dewasa. Biasanya para peneliti memilih rancangan cross-sectional
oleh karenasecara administrative lebih efisien.
Disain ini menawarkan keuntungan utama mengenai efisiensi
waktu. Sebab langkah ini dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat.
Rancangan cross-sectional memerlukan
peneliti untuk mengasumsi perubahan yang terjadi oleh karena perbedaan
umur. Rancangan ini juga memantau perbedaan umur, tetapi bukan
perubahan perilaku yang atau apa yang atau apa
yang sering disebut dengan teknik. Dengan
sedikitperbuatan pada teknik gerak. Contoh, anak dengan tangan kanannya
mengayun sambil bergerak ke depan dengan melangkahkan kaki
kanannya, atau performa sikap menagkap bola.
Penelitian yang mnggunakan pendekatan yang berorientasi pada
proses biasanya memfokuskan padaperforma teknik gerak. Seperti anak yang
mengupayalan untuk menerima bola secara akurat. Proses merupakan teknik
yang digunakan untuk melakukan gerak. Performa anak dalam menangkap
bola, pendekatan yang berorientasi pada proes menganalisis anak dalam
mengontrol bola.
Klasifikasi
Perkembangan Usia
Berikut ini merupakan tabel mengenai klasifikasi
perkembangan usia :
No
|
Periode
|
Perkiraan Usia Rata-Rata
|
1
|
Pranatal :
- Zygote
- Embrio
- Fetal (janin)
|
Pembuahan hingga lahir ke dunia
- Pembuahan – 1 minggu
- 2 mnggu – 8 minggu
- 8 minggu - lahir
|
2
|
Bayi :
- Neonatal
- Bayi Awal
- Bayi Akhir
|
Lahir hingga usia 24 bulan
- Lahir – 1 bulan
- 1 bulan – 12 bulan
- 12 bulan – 24 bulan
|
3
|
Kanak-kanak
- Anak baru belajar berjalan
- Masa kanak-kanak awal
- Masa kanak-kanak akhir
|
2 tahun hingga 10 tahun
- 24 bulan – 36 bulan
- 3 tahun – 5 tahun
- 6 tahun – 10 tahun
|
4
|
Remaja :
- Remaja awal
- Remaja akhir
|
10 tahun hingga 20 tahun
- 10 tahun – 12 tahun (W)
- 11 tahun – 13 tahun (L)
- 12 tahun – 20 tahun (W)
- 14 tahun – 20 tahun (L)
|
5
|
Dewasa awal :
- Baru memasuki masa dewasa
- Masa kematangan
|
20 tahun hingga 40 tahun
- 20 tahun – 30 tahun
- 30 tahun – 40 tahun
|
6
|
Dewasa pertengahan :
- Masa transisi dalam hidup
- Setengah baya
|
40 tahun hingga 60 tahun
- 40 tahun – 45 tahun
- 45 tahun – 60 tahun
|
7
|
Lanjut usia
- Awal memasuki
lanjut usia
- Lanjut usia
tahap menengah
- Lanjut usia
tahap akhir
|
60 tahun ke atas
- 60 tahun – 70 tahun
- 70 tahun 80 tahun
- 80 tahun ke atas
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar