Minggu, 02 Maret 2014

PERKEMBANGAN MOTORIK


BAB I
PENDAHULUAN

1.1   LATAR BELAKANG

Perkembangan motorik merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam perkembangan individu secara keseluruhan. Beberapa pengaruh perkembangan motorik terhadap konstelasi perkembangan individu dipaparkan oleh Hurlock (1996) sebagai berikut:

§ Melalui keterampilan motorik, anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan senang. Seperti anak merasa senang dengan memiliki keterampilan memainkan boneka, melempar dan menangkap bola atau memainkan alat-alat mainan.
§ Melalui keterampilan motorik, anak dapat beranjak dari kondisi tidak berdaya pada bulan-bulan pertama dalam kehidupannya, ke kondisi yang independent. Anak dapat bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya dan dapat berbuat sendiri untuk dirinya. Kondisi ini akan menunjang perkembangan rasa percaya diri.
§ Melalui perkembangan motorik, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekolah. Pada usia prasekolah atau usia kelas-kelas awal Sekolah Dasar, anak sudah dapat dilatih menulis, menggambar, melukis, dan baris-berbaris.
§ Melalui perkembangan motorik yang normal memungkinkan anak dapat bermain atau bergaul dengan teman sebayannya, sedangkan yang tidak normal akan menghambat anak untuk dapat bergaul dengan teman sebayanya bahkan dia akan terkucilkankan atau menjadi anak yang fringer (terpinggirkan).
§ Perkembangan keterampilan motorik sangat penting bagi perkembangan self-concept atau kepribadian anak.
1.2 Tujuan
1.      Menambah wawasan  keilmuan  mahasiswa  mengenai perkembangan fisik, motorik, serta konitif pada anak
2.      Mengetahui berbagai macam perkembangan yang terjadi pada masa anak-anak.


1.3 Manfaat
Adapaun manfaat dari pembuatan makalah ini yaitu kita dapat mengetahui implikasi pembelajaran motorik, untuk mengetahui penerapan dalam teori pembelajaran motorik, dan untuk mempermudah kita dalam mengetahui pembelajaran serta teori – teori yang mendukung teori pembelajaran motorik tersebut




BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Perkembangan Motorik
Motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf, otot, otak, dan spinal cord. Perkembangan motorik meliputi motorik kasar dan halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh. Contohnya kemampuan duduk, menendang, berlari, naik-turun tangga dan sebagainya. Sedangkan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu, yang dipengaruhi oleh kesempatan untuk belajar dan berlatih. Misalnya, kemampuan memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret, menyusun balok, menggunting, menulis dan sebagainya. Kedua kemampuan tersebut sangat penting agar anak bisa berkembang dengan optimal.
2.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Motorik.
§ Perkembangan sistim Saraf.
Sistim saraf sangat berpengaruh dalam perkenbangan motorik karna sistim saraf lah yang mengontrol gerak motorik pada tubuh manusia.
§ Kemampuan fisik yang memungkinkan untuk bergerak.
Karna perkembangan motorik sangat erat kaitannya dengan fisik maka kemampuan fisik seseorang akan sangat berpengaruh pada perkembangan motorik seseorang. Anak yang normal perkembangan motoriknya akan lebih baik dibandingkan anak yang memiliki kekurangan fisik.
§ Keinginan anak yang memotifasinya untuk bergerak.
Ketika anak mampu melakkan suatu gerakan motorik, maka akan termotivasi untuk bergerak kepada motorik yang lebih luas lagi. Karna semakin dilatih kemampuan motorik anak akan semakin meningkat.
§ Linkungan yang mendukung.
Perkembangan motorik anak akan lebih teroptimalkan jika lingkungan tempat tumbuh kembang anak mendukung mereka untuk bergerak bebas. Kegiatan di luar ruangan bisa menjadi pilihan yang terbaik karena dapat menstimulasi perkembangan otot.
§ Aspek psikologis anak.
kemampuan motorik yang baik berhubungan erat dengan self-esteem.
         § Umur.
Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenetal, tahun pertama kehidupan dan pada masa remaja.
         § Jenis kelamin.
Setelah melewati pubertas, pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat.

§ Genetik.
Genetik adalah bawaan anak yaitu potensial anak yang akan menjadi ciri khasnya. Kelainan genetik akan mempengaruhi proses tumbuh kembang anak.
§ Kelainan kromosom.
Pada umumnya kelainan kromosom akan disertai dengan kegagalan pertumbuhan.
2.3 Prinsip-Prinsip Perkembangan Motorik.
§ Perkembangan melibatkan perubahan.
Perkembangan motorik ditandai dengan adanya perubahan ukuran, perubahan proposi, hilangnya ciri lama, dan mendapatkan ciri baru.
§ Hasil proses kematangan dan belajar.
Proses kematangan yaitu warisan genetik individu. Sedangkan proses belajar yaitu perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha setiap indifidu..
§ Terdapat perbedaan dalam perkembangan motorik setiap individu.
Walaupun pola perkembangan sama, setiap anak akan mengikuti pola pola perkembangan yang dapat diramalkan dengan cara dan kecepatannya sendiri-sendiri.
§ Dapat diramalkan.
Pola perkembangan fisik dapat diramalkan semasa kehidupan pra dan pasca lahir. Perkenbangan motorik akan mengikuti hukum chepolocaudal yaitu perkembangan yang menyebar ke seluruh tubuh dari kepala ke kaki. Hukum yang kedua yaitu proximodialis yaitu perkembangan dari yang dekat ke yang jauh.
§ Pola perkembangan mempunyai karateristik yang dapat diramalkan.
Karateristik dalam perkembangan anak juga dapat diramalkan, hal ini berlaku baik untuk perkembangan fisik maupun mental. Semua anak mengikuti mengikuti pola perkembangan yang sama dari satu tahap ke tahap yang lainnya.
§ Setiap tahap memiliki bahaya yang potensial.
Beberapa hal yang menyebabkan antara lain dari lingkungan bahkan dari anak itu sendiri. Bahaya ini dapat mengakibatkan terganggunya penyesuaian fisik, psikologis, dan sosial anak.
Stimulasi yang bisa diberikan unruk mengoptimalkan perkembangan motorik anakadalah:
1.      Dasar-dasar keterampilan untuk menulis (huruf arab dan latin) dan menggambar.
2.      Keterampilan berolah raga (seperti senam) atau menggunakan alat-alat olah raga.
3.      Gerakan-gerakan permainan, seperti meloncat, memanjat dan berlari.
4.      Baris-berbaris secara sederhana untuk menanamkan kebiasaan kedisiplinan dan ketertiban.

2.4 FASE-FASE PERKEMBANGAN MOTORIK

·       FASE-FASE KETERAMPILAN MOTORIK
Ø  FASE KETERAMPILAN MOTORIK TINGKAT PERTAMA

Fase belajar motorik adalah suatu fase yang manggambarkan keadaan penguasaan keterampilan motorik seseorang dalam dalam  melaksanakan  gerakan-gerakan olah raga.

Kemampuan seseorang untuk dapat menguasai keterampilan-keterampilan motorik olah raga berbeda-beda,yang disebabkan oleh antara lain :

* Perbedaan kemampuan kondisi dan koordinasi yang dimiliki
* Perbedaan usia
* Perbedaan pengalaman gerakan
* Perbedaan jenis kelamin
* Perbedaan kognitif,
* Frekwensi latihan dan sebagainya

Ciri-ciri umum kemampuan fase belajar motorik tingkat pertama

Ciri-ciri umum fase belajar motorik tingkat pertama adalah penguasaan kemampuan motorik dalam bentuk kasar,seseorang yang berada pada fase ini hanya mampu melaksanakan gerakan-gerakan yang dituntut bila situasi dan kondisi mendukung.
Ciri-ciri khusus atau yang banyak dilihat.

· Struktur dasar gerakan tersebut diperlihatkan dalam bentuk yang kasar.
· Irama gerakan
· Hubungan gerakan
· Luas gerakan
· Kelancaran gerakan /aliran gerakan
· Kecepatan gerakan
· Ketepatan dan kekonstanan gerakan
· Bayangan gerakan
· Program gerakan

Ciri-ciri pada fase belajar tingkat pertama dapat dilihat pada aspek penerimaan dan pengolahan informasi.

Dalam pelaksanaan aksi-aksi motorik atau gerakan-gerakan olahraga ada 5 indra penerima informasi yaitu : visual (penglihatan), akustik (penalaran), taktil (kulit), kinestik (otot), dan vetibular (alat keseimbangan).

Kelima indra itu tidak hanya berperan dalam penerimaan informasi tetapi juga berperan dalam penerimaan feedback,yaitu tentang gerakan yang sedang berlansung.

Berdasarkan feedback ini dapat dilakukan pengendalian dan pengaturan-pengaturan gerakan-gerakan yang sedang dilakukan misalnya:pengaturan tentang impuls-impuls kekuatan,pengaturan,dan pengendalian arah gerakan.



Ø  FASE  KETERAMPILAN MOTORIK TINGKAT KE DUA

Ciri-ciri umum fase belajar motorik tingkat kedua ini adalah peningkatan penguasaan kemampuan koordinasi secara halus, yaitu kualitas gerakan yang dilakukan sudah meningkat.

Perkembangan proses belajar pada fase ini datandai oleh beberapa kemajuan dan diwarnai oleh beberapa permasalahan.kemajuan-kemajuan yang diproleh antara lain dapat dilihat dari semakin meningkatnya kualitas gerakan.

Ciri-ciri khusus fase belajar motorik tingkat kedua

-  Struktur dasar gerakan
-  Irama gerakan
-  Hubungan gerakan
-  Luas gerakan
-  Kelancaran gerakan
-  Kecepatan gerakan
-  Ketepatan dan kekonstanan gerakan
-  Bayangan dan program gerakan

Dalam belajar motorik ada lima indera penerima informasi antara lain :

1. Mata ( Visueller Analisator )
2. Kulit ( Taktiler Analisator )
3. Otot-otot ( Kinesthetischer Analisator )
4. Telinga ( Akusticher Analisator )
5. Alat keseimbangan yang terletak pada bagian dalam telinga ( Statico dynamisator )

Kelima indera penerima informasi tersebut dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu :

   1. Alat penerima informasi dari luar
Yaitu informasi yang datang dari luar atau dari lingkungan sipelaku gerakan itu sendiri. Diantaranya : mata, telinga dan kulit.

   2. Alat penerima informasi dari bagian dalam
Yaitu informasi yang berasal dari dalam diri sipelaku gerakan itu sendiri tentang jalannya gerakan baik yang sedang berlangsung. Diantaranya : otot-otot dan staticodynamisator.

Ciri-ciri fase belajar motorik tingkat kedua dan implikasinya kedalam proses pembelajaran

Fase belajar tingkat kedua menuntut aktifitas belajar yang tinggi,untuk dapat melaksanakannya dibutuhkan persiapan-persiapan yang tinggi dari peserta didik.kesiapan yang dimaksud antaralain:

* Kesiapan dalam melakukan pengulangan-pengulangan latihan
* Kesiapan dalam menerima beban kerja fisik
* Kesiapan untuk berkonsentrasi penuh
* Serta kesiapan untuk turut aktif dalam proses berfikir


Ø  FASE  KETERAMPILAN MOTORIK  TINGKAT KETIGA

Ciri-ciri umum fase belajar tingkat ketiga dapat digambarkan sebagai berikut:

Kemampuan prestasi seseorang yang berada pada fase belajar tingkat ketiga lebih stabil,dan kestabilan prestasi tersebut dapat dilakukan dengan konstan,walaupun dibawah situasi dan kondisi tempat palaksanaan gerakan yang dipersulit.

Peningkatan yang terjadi dalam berbagai aspek antara lain :

· Perbaikan dalam mengantisipasi suatu situasi dan kondisi

· Perbaikan peran analisator kinentetik,sehingga dapat mengendalikan dan mengatur impuls-impuls tenaga pasa otot-otot yang bekerja sesuai dengan kebutuhan

· Perbaikan peran dan fungsi indra penerima informasi

· Perbaikan-perbaikan dalam pengolahaninformasi yang diterima.

Ciri umum berikutnya pada fase belajar tingkat ketiga kestabilan prestasi atau unjuk kerja,individu yang berada pada fase ini mampu melakukan gerakan-gerakan yang sama secara berulang-ulang,sedangkan kualitas gerakan yang ditampilkan pada setiap kali pengulangan cukup konstan.

Ciri-ciri khusus fase belajar motorik tingkat ketiga
   - Terbentuknya kemampuan automatisasi
   - Bayangan dan konstruksi bayangan gerakan
   - Irama gerakan

Pada fase belajar tingkat ketiga ini pelaksanan gerakan terlihat semakin mulus dan lancar,sehingga gerakan-gerakan yang dilakukan cukup efesien dan efektif baik dalam hal pemakaian ruangan,maupun waktu dan tenaga.

Kecepatan gerakan

Keistimewaan khusus yang dimiliki pada fese belajar tingkat ketiga adalah kemampuannya untuk memanipulasi bentuk-bentuk gerakan.kemampuan untuk melakukan gerak tipu yang tepat hanya dapat dilakukan oleh individu yang memiliki kemampuan antisipasi situasi dan kondisi yang akurat.

Ciri-ciri khusus kemampuan penerimaan dan pengolahan informasi individu yang berada pada fase belajar tingkat ketiga adalah semakin meningkatnya peran dan fungsi analisator informasi kinestetik(otot).

Ciri-ciri lain dari kemampuan penerimaan dan pengolahan informasi fase belajar tingkat ketiga ditandai dengan semakin meningkatnya peran dan fungsi serta kepekaan alat-alat analisator yang lain seperti: mata, kulit, telinga (staticodynamisator), maka individu yang berada fase ini dapat menerima umpan balik secara lebih banyak dan rinci tentang jalannya suatu gerakan baik yang sedang berlansung,maupun yang baru selesai dilaksanakan.
Fase belajar tingkat ketiga merupakan suatu fase untuk menstabilkan kemampuan koordinasi halus yang telah dikuasai.

Bentuk latihan lain yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran untuk peserta didik yang berada pada fase ini adalah latihan dalam bentuk mental-traning.

Latihan-latihan mental akan dapat membantu peserta didik dalam meningkatkan:

· Kemampuan mengantisipasi perubahan situasi yang akan terjadi dan efek dari perubahan tersebut

· Kemampuan ketetapan gerakan

· Kemampuan melaksanakan gerakan secara ekonomis,baik dari segi waktu,tenaga,maupun ruangan yang dipakai

· Kemampuam ketetapan pengambilan keputusan

KOORDINASI GERAK

koordinasi gerak dilihat sebagai pengatur terhadap proses-proses motorik terutama terhadap kerja otot-otot yang diatur melalui sistem persyarafan atau disebut dangan intra muskulare koordination.

Koordinasi gerak meliputi pengkoordinasian kerja otot-otot yang terlibat dalam suatu pelaksanaan gerakan.pengkoordinasian tersebut diatur sedemikian rupa oleh sistem persyarafan.

Yang diatur disini adalah :penyesuaian komponen-komponen kekuatan dan kecepatan yang dibutuhkan oleh otot dalam pelaksanaan gerak sesuai dangan kebutuhan setiap bagian gerak.

Struktur dasar gerakan

Kata struktur diartikan secara sederhana sebagai suatu susunan tertentu maka struktur garak dapat diartikan sebagai strukur gerakan.atau dapat diterjemahkan sebagai susunan dasar dari suatu gerakan atau susunan yang selalu ada dalam pelaksanaan suatu gerakan.

Irama gerakan

Iram gerak adalah ciri-ciri yang menggambarkan ketepatan antara pelaksanaan bagian-bagian gerak dengan dimensi ruang dan waktu yang digunakan atau yang diperlukan pada setiap gerakan.

Untuk mendapatkan kemampuan irama gerakan yang baik,pada dasarnya harus dalakukan latihan-latihan secara berulang-ulang terhadap bentuk-bentuk gerakan yang sama

Hubungan gerakan

Hubungan gerakan adalah:suatui proses transfer impuls tenaga dari suatu bagian tubuh yang lain atau proses transfer impuls dari suatu alat gerak ke alat gerak lain.sehingga terjadi hubungan gerakan.

Indikator yang dapat diamati dari hubungan gerakan yang tidak sempurna adalah :

* Terjadinya kelebihan gerakan yang tidak diperlukan yang mengakibatkan terganggunya transfer impuls tenaga untuk gerakan
* Kelebihan gerakan tersebut diakibatkan oleh impuls tenaga yang diberikan terlalu besar dari yang dibutuhkan.
* Luas gerakan
Luas gerakan adalah : luasnya ruangan atau lintasan yang terpakai dalam pelaksanaan suatu gerakan.

Indikator-indikator yang dapat diamati untuk mengetahui kesalahan luas gerakan antara lain :

* Pemakaian luas gerakan untuk pelaksanaan suatu gerakan tidak stabil
* Frekwensi gerakan yang terlalu rendah dapat disebabkan karena ruangan yang terpakai untuk pelaksanaan suatu gerakan terlalu luas,sehinggawaktu yang dibutuhkan juga berlebih dari yang semestinya
* Frekwensi gerakan yang terlalu tinggi misalnya dalam berlari atau berenang dapat disebabkan oleh ruangan yang terpakai terlalu sempit
* Irama gerakan tidak konstan

Kelancaran gerakan

Kelancaran gerakan atau aliran gerakan adalah suatu ciri-ciri yang menggambarkan kontinuitas dari jalannya suatu gerakan.

Untuk dapat melihat kelancaran gerakan,indikator yang dapat diamati adalah :

· Kontinuitas jalannya gerakan

· Kecepatan atau percepatan gerakan (terlalu cepat atau terlalu lambat)

Kecepatan gerakan

Dalam pelaksanan suatu gerakan,kecepatan merupakan salah satu ciri-ciri koordinasi gerakan yang perlumendapatkan perhatian,hal ini disebabkan karena kecepatan sangat menentukan hasil yang ingin dicapai.

Untuk dapat memanfaatkan kecepatan gerakan secara optimal memang sangat dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti : kemampuan mengantisipasi gerakan,kelancaran gerakan dan hubungan gerakan.


 Ketepatan dan kekonstanan gerakan

Ketepatan dan kekonstanan gerakan sangat menentukan sekali terhadap hasil yang ingin dicapai dalam pelaksanaan gerakan.

Ketepatan gerakan dalam artian proses adalah : ketepatan jalannya suatu rangkaian gerakan baik dilihat dari struktur dalam gerakan maupun dilihat dari sistematika gerakan.

Sedangkan ketetapan produk adalah : suatu hasil yang diperoleh dari aktivfitas atau gerakn.

Menurut MEINEL (1977,HAL 180) mengartikan ketepatan gerakan sebagai ketepatan atau kesatuan antara perencanaan gerakan dengan hasil yang diperoleh. Pengertiannya adalah bahwa setiap pelaksanaan gerakan selalu didahului oleh suatu gerakan yang direncanakan pada pusat susunan syaraf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar