Minggu, 02 Maret 2014

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Perkembangan merupakan perubahan, dalam upaya mengungkap perubahan dalam konteks pertumbuhan dan perkembangan ini para ahli psikologi mengungkapkan berbagai konsepsi yang menggambarkan mekanisme perubahan yang dialami manusia sepanjang masa perkembangannya. Masing-masing teori dan konsep yang dikemukakan mempunyai alasan dan cara pandang yang berbeda, sehingga tidak ada alasan bagi masyarakat untuk sepenuhnya mengikuti salah satu konsep secara murni, mengingat tidak ada konsep yang berlaku obyektif untuk semua kondisi perkembangan manusia.
Selain pendapat diatas beberapa ahli juga berpendapat bahwa Perkembangan pada manusia ialah perubahan yang bersifat kualitatif. Sifat perubahan ini tidak dapat diukur, tetapi jelas berlaku jika dibandingkan dengan peringkat yang lebih awal (Atan Long,1980). Paul Eggan dan Don Kauchak berpendapat perkembangan adalah perubahan yang berurutan dan kekal dalam diri seseorang hasil daripada pembelajaran, pengalaman dan kematangan. Slavin (1997) pula berpendapat perkembangan adalah berkaitan dengan mengapa dan bagaimana individu berkembang dan membesar, menyesuaikan diri kepada persekitaran dan berubah melalui peredaran masa. Beliau berpendapat, individu akan mengalami perkembangan sepanjang hayat, yaitu perkembangan dari segi fisikal, personaliti, sosioemosional dan kognitif serta bahasa. Sedangkan Menurut Crow dan Crow (1980), perkembangan merupakan perubahan secara ‘kualitatif’ serta cenderung ke arah yang lebih baik dari segi pemikiran, rohani, moral dan sosial.
Secara singkat ada lima perspektif teoritis utama tentang perkembangan yaitu psikoanalitis, kognitif, belajar perilaku atau sosial, etologis dan ekologis. Keberagaman teori ini akan menyebabkan pemahaman perkembangan masa hidup sebagai suatu usaha yang menantang, sama seperti ketika kita berpikir mengenai suatu teori yang memiliki penjelasan benar tentang perkembangan masa hidup, teori lain muncul dan menyebabkan kita memikirkan ulang kesimpulan kita sebelumnya untuk mencegah frustasi ingat bahwa perkembangan masa hidup adalah suatu topik yang kompleks, banyak wajah dan tidak ada teori tunggal yang memperhitungkan semua aspeknya.
Oleh karena itu, teori perkembangan harus kita pelajari sebagai upaya untuk mengetahui tahapan-tahapan hidup manusia terutama kita sebagai calon guru harus memahami perkembangan dari peserta didik agar kita dapat menentukan jenis pembelajaran yang tepat baginya.

B.  Rumusan Masalah
Untuk mengkaji makalah ini, penyusun merumuskan masalah sebagai berikut:
a.       Apakah makna perkembangan?
b.      Apa saja pandangan alternatif yang dapat digunakan dalam memahami perkembangan manusia?
c.       Apa saja teori perkembangan itu?
d.      Apa saja teori perkembangan manusia itu?

C.  Tujuan Yang Dicapai
- Mengetahui makna perkembangan
- Mengetahui beberapa pandangan alternatif yang dapat digunakan dalam memahami perkembangan manusia
- Mengetahui beberapa teori perkembangan
- Mengetahui teori perkembangan manusia

D.  Metode Yang Dipergunakan
Untuk melengkapi data yang diperlukan dalam penyusunan makalah ini, penyusun menggunakan metode:
- Metode keperpustakaan, yaitu pengambilan data melalui buku-buku,internet dan lain-lain. Tujuan dari metode tersebut yaitu untuk memperoleh data-data yang teoritis sebagai pembanding data yang aktual.
-          Metode kuantitatif yaitu menarik kesimpulan berdasarkan kualitas atauintensitas ini dari informasi data yang kami peroleh.

E.  Sistematika Penulisan
BAB I      PENDAHULUAN
Pada pendahuluan berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan yang dicapai, dan metode yang digunakan, serta sistematika.
BAB II    PEMBAHASAN
Dalam bab ini, kami mencoba membahas tentang bahan yang kami angkat sebagai rujukan dalam pembuatan makalah ini.
BAB III   PENUTUP
Penutup berisi kesimpulan tentang masalah-masalah yang diuraikan dalam makalah ini.









BAB II
PEMBAHASAN

A.    Makna Perkembangan
Perkembangan merupakan pola perkembangan individu yang berawal pada konsepsi dan terus berlanjut sepanjang hayat dan bersifat involusi (Santrok Yussen 1992). Dengan demikian perkembangan berlangsung dari proses terbentuknya individu dari proses bertemunya sperma dengan sel telur dan berlangsung sampai akhir hayat yang bersifat timbulnya adanya perubahan dalam diri individu.
Perkembangan merupakan serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman dan terdiri atas serangkaian perubahan yang bersifat kualitatif dan kuantitatif (E.B. Harlock). Dimaksudkan bahwa perkembangan merupakan proses perubahan individu yang terjadi dari kematangan (kemampuan seseorang sesuai usia normal) dan pengalaman yang merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan sekitar yang menyebabkan perubahan kualitatif dan kuantitatif (dapat diukur) yang menyebabkan perubahan pada diri individu tersebut.
Perkembangan mengandung makna adanya pemunculan sifat-sifat yang baru, yang berbeda dari sebelumnya (Kasiram, 1983 : 23), menandung arti bahwa perkembangan merupakan peubahan sifat indiviu menuju kesempurnaan yang merupakan penyempurnaan dari sifat-sifat sebelumnya.
Dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian perkembangan yaitu merupakan perubahan individu kearah yang lebih sempurna yang terjadi dari proses terbentuknya individu sampai akhir hayat dan berlangsung secara terus menerus. Sebagai contoh anak yang baru berusia 5 bulan hanya dapat tengkurab kemudian setelah kira-kira 7 bulan sudah bisa berdiri tapi dengan bantuan orang lain, kemudian pada umur 9 bulan baru dapat berdiri sendiri dan mulai berjalan sedikit demi sedikit. Setelah berumur 10 bulan baru dapat berjalan dengan lancar, setelah itu dia dapat berlari-lari.Maka proses perubahan tarsebut dinamakan dengan perkembangan.
Para peneliti perkembangan menguji atau meneliti apa perkembangan itu dan mengapa perkembangan itu terjadi. Ada dua tujuan penelitian perkembangan, yaitu :
1.      Memberikan gambaran tentang tingkah laku anak yang meliputi pertanyaan-pertanyaan, seperti : kapan bayi mulai berjalan? Apa keterampilan sosial yang khas bagi anak usia 4 tahun? Bagaimana anak usia kelas enam memecahkan konflik dengan teman-temannya?
2.      Mengidentifikasi faktor penyebab dan proses yang melahirkan perubahan perilaku dari satu perkembangan ke perkembangan berikutnya. Faktor-faktor ini meliputi warisan genetika, karakteristik biologis dan struktur otak, lingkungan fisik dan sosial dalam kehidupan anak dan pengalaman-pengalaman anak.
B.     Beberapa Pandangan Alternatif yang dapat digunakan dalam Memahami Perkembangan Manusia
1.      Teori Psikoanalis
Bagi para teoritisi psikoanalitis, perkembangan pada dasarnya tidak disadari yaitu diluar kesadaran dan sangat diwarnai oleh emosi. Para teoritis psikoanalitis yakin bahwa perilaku semata-mata adalah suatu karakteristik permukaan dan untuk benar-benar memahami perkembangan kita harus menganalisis makna simbolis perilaku dan kerja pikiran yang paling dalam. Para teoritisi psikoanalitis juga menekankan bahwa pengalaman-pengalaman sebelumnya dengan orang tua secara ekstensif membentuk perkembangan kita. Karakteristik ini digarasbawahi dalam teori psikoanalitis utama yaitu Sigmuend Freud.
Kepribadian, karena ego membuat keputusan-keputusan rasional. Id dan ego tidak memiliki moralitas. Id dan ego tidak memperhitungkan apakah sesuatu benar atau salah. Superego adalah struktur kepribadian freud yang merupakan badan moral kepribadian dan benar-benar memperhitungkan apakah sesuatu benar atau salah. Anggaplah superego sebagai apa yang selalu kita rujuk sebagai “hati nurani” kita. Kita barangkali mulai merasa bahwa Id maupun superego menyebabkan kehidupan kasar bagi ego. Ego kita barangkali mengatakan “aku akan melakukan hubungan sex” kadang-kadang saja dan memastikan untuk menggunakan alat pencegah kehamilan yang tepat, karena aku tidak ingin gangguan anak dalam perkembangan karirku. “ akan tetapi ide anda mengatakan akau ingin dipuaskan, sex itu nikmat. Superego anda sedang bekerja juga “aku merasa bersalah kalau melakukan hubungan sex”.
2.      Teori Perkembangan kognitif
Pakar psikologi Swiss terkenal Jean Piaget (1896-1980) menekankan bahwa anak-anak membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri; informasi tidak sekedar dituangkan ke dalam pikiran mereka dari lingkungan. Piaget yakin bahwa anak-anak menyesuaikan pemikiran mereka untuk mencakup gagasan-gagasan baru, karena informasi tambahan memajukan pemahaman.
Teori piaget didasarkan atas presuposisi biologis, dengan fokus minatnya pada bagaimana makhluk hidup menyesuaikan atau mengorganisasikan dirinya terhadap lingkungannya dan berkembang.
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
a.       Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
b.      Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
c.       Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
d.       Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
e.       Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.
3.      Teori Belajar (Konsepsi Asosiasi)
Inti dari konsepsi asosiasi adalah bahwa hakekat perkembangan adalah proses asosiasi, dimana bagian-bagian mempunyai nilai yang lebih pening dari keseluruhan. Dalam perkembangannya anak-anak pada mulanya mempunyai kesan sebagian-sebagian, kemudian melalui proses asosiasi bagian-bagian tersebut akan membentuk menjadi suatu keseluruhan. Banyak tokoh terkenal penganut konsepsi ini diantaranya yaitu: John locke (dengan teori tabularasa), Thorndike (denga teori conectionisme), J.B Watson dengan Teori Behaviriosme, dan Ivan Pavlov dengan teori Conditiononing Reflect.



C.    Beberapa Teori Perkembangan
Dewasa ini ada tiga teori atau pendekatan mengenai perkembangan, yaitu : pendekatan-pendekatan perkembangan kognitif, belajar atau lingkungan, dan etologis. Di samping itu, dikemukakan juga pendekatan dari Imam Al-Ghazali.
1.      Pendekatan Perkembangan Kognitif
Pendekatan ini didasarkan kepada asumsi atau keyakinan bahwa kemampuan kognitif merupakan suatu yang fundamental dan yang membimbing tingkah laku anak. Kunci untuk memahami tingkah laku anak terletak pada pemahaman bagaimana pengetahuan tersebut terstruktur dalam berbagai aspeknya. Ada tiga model perkembangan kognitif ini, yaitu :
a.                  Model dari Piaget
Piaget berpendapat bahwa perkembangan manusia dapat digambarkan dalam konsepfungsi dan struktur. Fungsi merupakan mekanisme biologis bawaan yang sama bagi setiap orang atau kecenderungan-kecenderungan biologis untuk mengorganisasi pengetahuan ke dalam struktur kognisi, dan untuk beradaptasi kepada berbagai tantangan lingkungan. Tujuan dari fungsi-fungsi  ini adalah menyusun struktur kognitif internal. Sementara, Struktur merupakan interelasi (saling berkaitan) sistem pengetahuan yang mendasari dan membimbing tingkah laku inteligen. Struktur kognitif diistilahkan dengan konsep Skema, yaitu seperangkat keterampilan, pola-pola kegiatan yang fleksibel yang dengannya anak memahami lingkungan.
Skema merupakan aspek yang fundamental dalam teori Piaget, namun sangat sulit untuk dipahami secara komprehensif. Dia meyakini bahwa inteligensi bukan sesuatu yang dimiliki anak, tetapi yang dilakukannya.Anak memahami lingkungan hanya melalui perbuatan (melakukan sesuatu terhadap lingkungan). Inteligensi lebih merupakan proses daripada tempat penyimpanan informasi yang statis. Dalam hal ini Piaget memberi contoh tentang bagaimana berkembangnya pengetahuan anak tentang bola.
Dalam membahas fungsi-fungsi, piaget  mengelompokkannya seperti berikut :
1). Organisasi, yang merujuk kepada fakta bahwa semua struktur kognitif berinterelasi, dan berbagai pengetahuan baru harus diselerasikan ke dalam sistem yang ada.
2). Adaptasi, yang merujuk kepada kecenderungan organisme untuk menyelaraskan dengan lingkungan. Adaptasi ini terdiri atas dua subproses :
*      Asimilasi
Yaitu kecenderungan untuk memahami pengalaman baru berdasarkan pengetahuan yang telah ada, seperti : seorang anak kecil memanggil semua orang dewasa pria dengan sebutan “Daddy” (bapak).
*      Akomodasi
Yaitu perubahan struktur kognitif karena pengalaman baru.  Ini terjadi apabila informasi yang baru itu sangat berbeda atau terlalu kompleks yang kemudian diintegrasikan ke dalam struktur yang telah ada.
Keadaan saling mempengaruhi antara asimilasi dan akomodasi melahirkan konsep Konstruktivisme, yaitu bahwa anak secara aktif menciptakan (mengkreasi) pengetahuan, dalam arti tidak hanya menerima pengetahuan secara pasif dari lingkungannya.
b.                  Model Pemrosesan Informasi
Pendekatan  ini merumuskan bahwa kognitif manusia sebagai suatu sistem yang terdiri atas tiga bagian :
*      Input
Yaitu proses informasi dari lingkungan atau stimulasi (rangsangan) yang masuk ke dalam reseptor-reseptor pancaindera dalam bentuk penglihatan, suara, dan rasa.
*      Proses
Yaitu pekerjaan otak untuk mentransformasikan informasi atau stimulasi dalam cara yang beragam, yang meliputi mengolah/menyusun informasi ke dalam bentuk-bentuk simbolik, membandingkan dengan informasi sebelumnya, memasukkan ke dalam memori dan menggunakannya apabila diperlukan.
*      Output
Yaitu yang berbentuk tingkah laku, seperti berbicara, menulis, interaksi sosial, dan sebagainya.
c.                  Model Kognisi Sosial
Kognisi sosial dapat diartikan sebagai pengetahuan tentang lingkungan sosial dan hubungan interpersonal. Model ini menekankan tentang dampak/pengaruh pengalaman sosial terhadap perkembangan kognitif. Tokoh dari pendekatan ini adalah Lev Vygotsky (1886-1934) ahli psikologi dari Rusia.
2.      Pendekatan Belajar atau Lingkungan
Teori-teori belajar atau lingkungan berakar dari asumsi bahwa tingkah laku anak di peroleh melalui pengkondisian (conditioning) dan prinsip-prinsip belajar. Di sini dibedakan antara tingkah laku yang dipelajari dengan temporer. Dalam hal ini B. F. Skinner membedakan :
a.       Respondent Behavior, merupakan respons yang didasarkan kepada refleks yang di kontrol oleh stimulus. Seperti : mengisap dan menggenggam, anak-anak dan juga orang dewasa biasa menampilkan tingkah laku responden, yaitu dalam bentuk (1) Respons Fisiologis (seperti bersin); dan (2) Respons Emosional (seperti sedih dan marah).
b.      Overan Behavior, yaitu tingkah laku suka rela yang di kontrol oleh dampak atau konsekuensinya.
Bandura meyakini bahwa belajar melalui observasi atau modeling itu melibatkan empat proses, yaitu sebagai berikut :
1.      Attentional, yaitu proses dimana observer atau anak menaruh perhatian terhadap tingkah laku atau penampilan model (orang yang diimitasi).
2.      Retention, yaitu proses yang merujuk kepada upaya anak untuk memasukkan informasi tentang model.
3.      Production, yaitu proses mengontrol bagaimana anak dapat mereproduksi respons atau tingkah laku model.
4.      Motivational, yaitu proses pemilihan tingkah laku model yang diimitasi oleh anak.
3.      Pendekatan Etologi
Pendekatan ini merupakan studi perkembangan dari perspektif evolusioner yang di dasarkan pada prinsip-prinsip evolusi yang diajukan pertama kalinya oleh Charles Darwin. Konsep ini merujuk kepada asal usul biologis atau evolusioner tentang tingkah laku sosial.
Lorenz dan Tinberger, dua orang pendiri gerakan etologi mengidentifikasi empat karakteristik tingkah laku bawaan, yaitu : (a) universal, (b) stereotip, (c) bukan hasil belajar, dan (d) sangat minim sekali dipengaruhi lingkungan.
4.      Pendekatan Imam Al-Ghzali
Al-Ghazali tidak menganjurkan penggunaan satu metode saja dalam menghadapi permasalahan akhlak serta pelaksanaan pendidikan anak. Dia menganjurkan agar guru memilih metode pendidikan sesuai dengan usia dan tabiat anak, daya tangkap dan daya tolaknya (daya persepsi dan daya rejeksinya). Dalam upaya mengembangkan akhlakul karimah (akhlak mulia) anak, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
a.       menjauhkan anak dari pergaulan yang tidak baik,
b.      membiasakannya untuk bersopan santun,
c.       memberikan pujian kepada anak yang melakukan amal shaleh,
d.      membiasakannya mengenakan pakaian yang putih (bagus), bersih dan rapi,
e.       mencegah anak untuk tidur di siang hari,
f.       menganjurkan mereka untuk berolah raga,
g.      menanamkan sikap sederhana,
h.      mengizinkannya bermain setelah belajar.
D.    Teori Perkembangan Manusia
Pada pembahasan jiwa (anima) diketahui bahwa manusia memiliki kesempurnaan dibanding makluk yang lain. Manusia dalam hidup mengalami perubahan-perubahan baik fisik maupun kejiwaan (fisiologis dan psikologis). Banyak faktor yang menetukan perkembangan manusia, yang mengakibatkan munculnya berbagai teori tentang perkembangan manusia. Teori-teori tersebut adalah sebagai berikut:

1.      Teori Nativisme
Pelopor teori ini adalah Athur Schopenhauer. Teori ini menyatakan bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh nativus atau faktor-faktor bawaan manusia sejak dilahirkan. Teori ini menegaskan bahwa manusia memiliki sifat-sifat tertentu sejak dilahirkan yang mempengaruhi dan menentukan keadaan individu yang bersangkutan. Faktor lingkungan dan pendidikan diabaikan dan dikatakan tidak berpengaruh terhadap perkembangan manusia.
Teori ini memiliki pandangan seolah-olah sifat-sifat manusia tidak bisa diubah karena telah ditentukan oleh sifat-sifat turunannya. Bila dari keturunan baik maka akan baik dan bila dari keturunan jahat maka akan menjadi jahat. Jadi sifat manusia bersifat permanen tidak bisa diubah. Teori ini memandang pendidikan sebagai suatu yang pesimistis serta mendeskreditkan golongan manusia yang “kebetulan” memiliki keturunan yang tidak baik.

2.      Teori empirisme
Berbeda dengan teori sebelumnya, teori ini memandang bahwa perkembangan individu dipengaruhi dan ditentukan oleh pengalaman-pengalaman yang diperoleh selama perkembangan mulai dari lahir hingga dewasa. Teori ini memandang bahwa pengalaman adalah termasuk pendidikan dan pergaulan. Penjelasan teori ini adalah manusia pada dasarnya merupakan kertas putih yang belum ada warna dan tulisannya akan menjadi apa nantinya manusia itu bergantung pada apa yang akan dituliskan.
Pandangan teori ini lebih optimistik terhadap pendidikan, bahkan pendidikan adalah termasuk faktor penting untuk menenukan perkembangan manusia. Teori ini dipolopori oleh 
Jhon Locke.

3.      Teori Konvergensi
Teori ini merupakan gabungan dari kedua teori di atas yang menyatakan bahwa pembawaan dan pengalaman memiliki peranan dalam mempengaruhi dan menentukan perkembangan individu. Asumsi teori ini berdasar eksperimen dari William Stern terhadap dua anak kembar. Anak kembar memiliki sifat keturunan yang sama, namun setelah dipisahkan dalam lingkungan yang berbeda anak kembar tersebut ternyata memiliki sifat yang berbeda. Dari sinilah maka teori ini menyimpulkan bahwa sifat keturunan atau pembawaan bukanlah faktor mayor yang menentukan perkembangan individu tapi turut juga disokong oleh faktor lingkungan.
Faktor pembawaan manusia dalam teori ini disebut sebagai faktor endogen yang meliputi faktor kejasmanian seperti kulit putih, rambut keriting, rambut warna hitam. Selain faktor kejasmanian faktor ada juga faktor pembawaan psikologis yang disebut dengan temperamen. Temperamen berbeda dengan karakter atau watak. Karakter atau watak adalah keseluruhan ari sifat manusia yang namapak dalam perilaku sehari-hari sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan dan bersifat tidak konstan. Jika watak atau karakter bersifat tidak konstan maka temperamen bersifat konstan, selain temperamen dan sifat jasmani, faktor endogen lainnya yang ada pada diri manusia adalah faktor bakat (aptitude). Aptitude adalah potensi-potensi yang memungkinkan individu berkembang ke satu arah.
Untuk faktor lingkungan yang dimaksud dalam teori ini disebut sebagai faktor eksogen yaitu faktor yang datang dari luar diri manusia berupa pengalaman, alam sekitar, pendidikan dan sebagainya yang populer disebut sebagai milieu. Perbedaan antara lingkungan dengan pendidikan adalah terletak pada keaktifan proses yang dijalankan.
BAB III
PENUTUP
a.      Simpulan
Perkembangan merupakan pola perkembangan individu yang berawal pada konsepsi dan terus berlanjut sepanjang hayat dan bersifat involusi (Santrok Yussen 1992). Dengan demikian perkembangan berlangsung dari proses terbentuknya individu dari proses bertemunya sperma dengan sel telur dan berlangsung sampai akhir hayat yang bersifattimbulnya adanya perubahan dalam diri individu.
Bagi para teoritisi psikoanalitis, perkembangan pada dasarnya tidak disadari yaitu diluar kesadaran dan sangat diwarnai oleh emosi.
Pakar psikologi Swiss terkenal Jean Piaget (1896-1980) menekankan bahwa anak-anak membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri; informasi tidak sekedar dituangkan ke dalam pikiran mereka dari lingkungan.
Teori-teori perkembangan pada manusia diantaranya adalah sebagai berikut:Teori Nativisme, Teori empirisme, Teori Konvergensi.

b.      Saran
Dari beberapa teori yang telah diuraikan, kita mengetahui bahwa tiap-tiap teori memiliki kelemahan dan kekurangan masing-masing. Oleh karena itu, di dalam penerapannya kita tidak perlu terpaku atau hanya cenderung kepada salah satu teori saja. Kita dapat mengambil manfaat dari beberapa teori sesuai dengan situasi dan kondisi seseorang.


DAFTAR PUSTAKA

Yusuf,Syamsu.2002.Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.Bandung: Rosdakarya





Tidak ada komentar:

Posting Komentar