BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan merupakan perubahan, dalam upaya
mengungkap perubahan dalam konteks pertumbuhan dan perkembangan ini para ahli
psikologi mengungkapkan berbagai konsepsi yang menggambarkan mekanisme
perubahan yang dialami manusia sepanjang masa perkembangannya. Masing-masing
teori dan konsep yang dikemukakan mempunyai alasan dan cara pandang yang
berbeda, sehingga tidak ada alasan bagi masyarakat untuk sepenuhnya mengikuti
salah satu konsep secara murni, mengingat tidak ada konsep yang berlaku
obyektif untuk semua kondisi perkembangan manusia.
Selain pendapat diatas beberapa ahli juga
berpendapat bahwa Perkembangan pada manusia ialah perubahan yang bersifat
kualitatif. Sifat perubahan ini tidak dapat diukur, tetapi jelas berlaku jika
dibandingkan dengan peringkat yang lebih awal (Atan Long,1980). Paul Eggan dan
Don Kauchak berpendapat perkembangan adalah perubahan yang berurutan dan kekal
dalam diri seseorang hasil daripada pembelajaran, pengalaman dan kematangan.
Slavin (1997) pula berpendapat perkembangan adalah berkaitan dengan mengapa dan
bagaimana individu berkembang dan membesar, menyesuaikan diri kepada
persekitaran dan berubah melalui peredaran masa. Beliau berpendapat, individu
akan mengalami perkembangan sepanjang hayat, yaitu perkembangan dari segi
fisikal, personaliti, sosioemosional dan kognitif serta bahasa. Sedangkan
Menurut Crow dan Crow (1980), perkembangan merupakan perubahan secara
‘kualitatif’ serta cenderung ke arah yang lebih baik dari segi pemikiran,
rohani, moral dan sosial.
Secara singkat ada lima perspektif teoritis utama
tentang perkembangan yaitu psikoanalitis, kognitif, belajar perilaku atau
sosial, etologis dan ekologis. Keberagaman teori ini akan menyebabkan pemahaman
perkembangan masa hidup sebagai suatu usaha yang menantang, sama seperti ketika
kita berpikir mengenai suatu teori yang memiliki penjelasan benar tentang
perkembangan masa hidup, teori lain muncul dan menyebabkan kita memikirkan
ulang kesimpulan kita sebelumnya untuk mencegah frustasi ingat bahwa
perkembangan masa hidup adalah suatu topik yang kompleks, banyak wajah dan
tidak ada teori tunggal yang memperhitungkan semua aspeknya.
Oleh karena itu, teori perkembangan harus kita
pelajari sebagai upaya untuk mengetahui tahapan-tahapan hidup manusia terutama
kita sebagai calon guru harus memahami perkembangan dari peserta didik agar
kita dapat menentukan jenis pembelajaran yang tepat baginya.
B. Rumusan Masalah
Untuk mengkaji makalah ini, penyusun merumuskan
masalah sebagai berikut:
a. Apakah makna
perkembangan?
b. Apa saja pandangan
alternatif yang dapat digunakan dalam memahami perkembangan manusia?
c. Apa saja teori
perkembangan itu?
d. Apa saja teori
perkembangan manusia itu?
C. Tujuan Yang Dicapai
- Mengetahui makna
perkembangan
- Mengetahui beberapa
pandangan alternatif yang dapat digunakan dalam memahami perkembangan manusia
- Mengetahui beberapa
teori perkembangan
- Mengetahui teori
perkembangan manusia
D. Metode Yang Dipergunakan
Untuk melengkapi data yang diperlukan dalam
penyusunan makalah ini, penyusun menggunakan metode:
- Metode keperpustakaan, yaitu pengambilan data
melalui buku-buku,internet dan lain-lain. Tujuan dari metode tersebut yaitu
untuk memperoleh data-data yang teoritis sebagai pembanding data yang aktual.
- Metode kuantitatif yaitu
menarik kesimpulan berdasarkan kualitas atauintensitas ini dari informasi data
yang kami peroleh.
E. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Pada pendahuluan berisi tentang latar belakang, rumusan
masalah, tujuan yang dicapai, dan metode yang digunakan, serta sistematika.
BAB II PEMBAHASAN
Dalam bab ini, kami mencoba membahas tentang bahan yang
kami angkat sebagai rujukan dalam pembuatan makalah ini.
BAB III PENUTUP
Penutup berisi kesimpulan tentang masalah-masalah yang
diuraikan dalam makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Makna Perkembangan
Perkembangan merupakan
pola perkembangan individu yang berawal pada konsepsi dan terus berlanjut
sepanjang hayat dan bersifat involusi (Santrok Yussen 1992). Dengan demikian
perkembangan berlangsung dari proses terbentuknya individu dari proses
bertemunya sperma dengan sel telur dan berlangsung sampai akhir hayat yang
bersifat timbulnya adanya perubahan dalam diri individu.
Perkembangan merupakan
serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses
kematangan dan pengalaman dan terdiri atas serangkaian perubahan yang bersifat
kualitatif dan kuantitatif (E.B. Harlock). Dimaksudkan bahwa perkembangan merupakan
proses perubahan individu yang terjadi dari kematangan (kemampuan seseorang
sesuai usia normal) dan pengalaman yang merupakan interaksi antara individu
dengan lingkungan sekitar yang menyebabkan perubahan kualitatif dan kuantitatif
(dapat diukur) yang menyebabkan perubahan pada diri individu tersebut.
Perkembangan mengandung
makna adanya pemunculan sifat-sifat yang baru, yang berbeda dari sebelumnya
(Kasiram, 1983 : 23), menandung arti bahwa perkembangan merupakan peubahan
sifat indiviu menuju kesempurnaan yang merupakan penyempurnaan dari sifat-sifat
sebelumnya.
Dari pendapat para ahli
diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian perkembangan yaitu merupakan
perubahan individu kearah yang lebih sempurna yang terjadi dari proses
terbentuknya individu sampai akhir hayat dan berlangsung secara terus menerus.
Sebagai contoh anak yang baru berusia 5 bulan hanya dapat tengkurab kemudian
setelah kira-kira 7 bulan sudah bisa berdiri tapi dengan bantuan orang lain,
kemudian pada umur 9 bulan baru dapat berdiri sendiri dan mulai berjalan
sedikit demi sedikit. Setelah berumur 10 bulan baru dapat berjalan dengan
lancar, setelah itu dia dapat berlari-lari.Maka proses perubahan tarsebut
dinamakan dengan perkembangan.
Para peneliti
perkembangan menguji atau meneliti apa perkembangan itu dan mengapa
perkembangan itu terjadi. Ada dua tujuan penelitian perkembangan, yaitu :
1. Memberikan gambaran
tentang tingkah laku anak yang meliputi pertanyaan-pertanyaan, seperti : kapan
bayi mulai berjalan? Apa keterampilan sosial yang khas bagi anak usia 4 tahun?
Bagaimana anak usia kelas enam memecahkan konflik dengan teman-temannya?
2. Mengidentifikasi faktor
penyebab dan proses yang melahirkan perubahan perilaku dari satu perkembangan
ke perkembangan berikutnya. Faktor-faktor ini meliputi warisan genetika,
karakteristik biologis dan struktur otak, lingkungan fisik dan sosial dalam
kehidupan anak dan pengalaman-pengalaman anak.
B. Beberapa Pandangan
Alternatif yang dapat digunakan dalam Memahami Perkembangan Manusia
1. Teori Psikoanalis
Bagi para teoritisi
psikoanalitis, perkembangan pada dasarnya tidak disadari yaitu diluar kesadaran
dan sangat diwarnai oleh emosi. Para teoritis psikoanalitis yakin bahwa
perilaku semata-mata adalah suatu karakteristik permukaan dan untuk benar-benar
memahami perkembangan kita harus menganalisis makna simbolis perilaku dan kerja
pikiran yang paling dalam. Para teoritisi psikoanalitis juga menekankan bahwa
pengalaman-pengalaman sebelumnya dengan orang tua secara ekstensif membentuk
perkembangan kita. Karakteristik ini digarasbawahi dalam teori psikoanalitis
utama yaitu Sigmuend Freud.
Kepribadian, karena ego
membuat keputusan-keputusan rasional. Id dan ego tidak memiliki moralitas. Id
dan ego tidak memperhitungkan apakah sesuatu benar atau salah. Superego adalah
struktur kepribadian freud yang merupakan badan moral kepribadian dan
benar-benar memperhitungkan apakah sesuatu benar atau salah. Anggaplah superego
sebagai apa yang selalu kita rujuk sebagai “hati nurani” kita. Kita barangkali
mulai merasa bahwa Id maupun superego menyebabkan kehidupan kasar bagi ego. Ego
kita barangkali mengatakan “aku akan melakukan hubungan sex” kadang-kadang saja
dan memastikan untuk menggunakan alat pencegah kehamilan yang tepat, karena aku
tidak ingin gangguan anak dalam perkembangan karirku. “ akan tetapi ide anda
mengatakan akau ingin dipuaskan, sex itu nikmat. Superego anda sedang bekerja
juga “aku merasa bersalah kalau melakukan hubungan sex”.
2. Teori Perkembangan
kognitif
Pakar psikologi Swiss
terkenal Jean Piaget (1896-1980) menekankan bahwa anak-anak membangun secara
aktif dunia kognitif mereka sendiri; informasi tidak sekedar dituangkan ke
dalam pikiran mereka dari lingkungan. Piaget yakin bahwa anak-anak menyesuaikan
pemikiran mereka untuk mencakup gagasan-gagasan baru, karena informasi tambahan
memajukan pemahaman.
Teori piaget didasarkan
atas presuposisi biologis, dengan fokus minatnya pada bagaimana makhluk hidup
menyesuaikan atau mengorganisasikan dirinya terhadap lingkungannya dan berkembang.
Implikasi teori
perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
a. Bahasa dan cara berfikir
anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan
menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
b. Anak-anak akan belajar
lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu
anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
c. Bahan yang harus
dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
d. Berikan peluang
agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
e. Di dalam kelas,
anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan
teman-temanya.
3. Teori Belajar (Konsepsi
Asosiasi)
Inti dari konsepsi
asosiasi adalah bahwa hakekat perkembangan adalah proses asosiasi, dimana
bagian-bagian mempunyai nilai yang lebih pening dari keseluruhan. Dalam
perkembangannya anak-anak pada mulanya mempunyai kesan sebagian-sebagian,
kemudian melalui proses asosiasi bagian-bagian tersebut akan membentuk menjadi
suatu keseluruhan. Banyak tokoh terkenal penganut konsepsi ini diantaranya
yaitu: John locke (dengan teori tabularasa), Thorndike (denga teori
conectionisme), J.B Watson dengan Teori Behaviriosme, dan Ivan Pavlov dengan teori
Conditiononing Reflect.
C. Beberapa Teori
Perkembangan
Dewasa ini ada tiga
teori atau pendekatan mengenai perkembangan, yaitu : pendekatan-pendekatan
perkembangan kognitif, belajar atau lingkungan, dan etologis. Di samping itu,
dikemukakan juga pendekatan dari Imam Al-Ghazali.
1. Pendekatan Perkembangan
Kognitif
Pendekatan ini
didasarkan kepada asumsi atau keyakinan bahwa kemampuan kognitif merupakan
suatu yang fundamental dan yang membimbing tingkah laku anak. Kunci untuk
memahami tingkah laku anak terletak pada pemahaman bagaimana pengetahuan
tersebut terstruktur dalam berbagai aspeknya. Ada tiga model perkembangan
kognitif ini, yaitu :
a. Model dari Piaget
Piaget berpendapat bahwa
perkembangan manusia dapat digambarkan dalam konsepfungsi dan struktur. Fungsi
merupakan mekanisme biologis bawaan yang sama bagi setiap orang atau
kecenderungan-kecenderungan biologis untuk mengorganisasi pengetahuan ke dalam
struktur kognisi, dan untuk beradaptasi kepada berbagai tantangan lingkungan.
Tujuan dari fungsi-fungsi ini adalah menyusun struktur kognitif internal.
Sementara, Struktur merupakan interelasi (saling berkaitan) sistem pengetahuan
yang mendasari dan membimbing tingkah laku inteligen. Struktur kognitif
diistilahkan dengan konsep Skema, yaitu seperangkat keterampilan, pola-pola
kegiatan yang fleksibel yang dengannya anak memahami lingkungan.
Skema merupakan aspek
yang fundamental dalam teori Piaget, namun sangat sulit untuk dipahami secara
komprehensif. Dia meyakini bahwa inteligensi bukan sesuatu yang dimiliki anak,
tetapi yang dilakukannya.Anak memahami lingkungan hanya melalui
perbuatan (melakukan sesuatu terhadap lingkungan). Inteligensi lebih merupakan
proses daripada tempat penyimpanan informasi yang statis. Dalam hal ini Piaget
memberi contoh tentang bagaimana berkembangnya pengetahuan anak tentang bola.
Dalam membahas
fungsi-fungsi, piaget mengelompokkannya seperti berikut :
1). Organisasi, yang
merujuk kepada fakta bahwa semua struktur kognitif berinterelasi, dan berbagai
pengetahuan baru harus diselerasikan ke dalam sistem yang ada.
2). Adaptasi, yang
merujuk kepada kecenderungan organisme untuk menyelaraskan dengan lingkungan.
Adaptasi ini terdiri atas dua subproses :
Yaitu kecenderungan
untuk memahami pengalaman baru berdasarkan pengetahuan yang telah ada, seperti
: seorang anak kecil memanggil semua orang dewasa pria dengan sebutan “Daddy”
(bapak).
Yaitu perubahan struktur
kognitif karena pengalaman baru. Ini terjadi apabila informasi yang baru
itu sangat berbeda atau terlalu kompleks yang kemudian diintegrasikan ke dalam
struktur yang telah ada.
Keadaan saling
mempengaruhi antara asimilasi dan akomodasi melahirkan konsep Konstruktivisme,
yaitu bahwa anak secara aktif menciptakan (mengkreasi) pengetahuan, dalam arti
tidak hanya menerima pengetahuan secara pasif dari lingkungannya.
b. Model Pemrosesan
Informasi
Pendekatan ini
merumuskan bahwa kognitif manusia sebagai suatu sistem yang terdiri atas tiga
bagian :
Yaitu proses informasi
dari lingkungan atau stimulasi (rangsangan) yang masuk ke dalam
reseptor-reseptor pancaindera dalam bentuk penglihatan, suara, dan rasa.
Yaitu pekerjaan otak
untuk mentransformasikan informasi atau stimulasi dalam cara yang beragam, yang
meliputi mengolah/menyusun informasi ke dalam bentuk-bentuk simbolik,
membandingkan dengan informasi sebelumnya, memasukkan ke dalam memori dan
menggunakannya apabila diperlukan.
Yaitu yang berbentuk
tingkah laku, seperti berbicara, menulis, interaksi sosial, dan sebagainya.
c. Model Kognisi Sosial
Kognisi sosial dapat
diartikan sebagai pengetahuan tentang lingkungan sosial dan hubungan
interpersonal. Model ini menekankan tentang dampak/pengaruh pengalaman sosial
terhadap perkembangan kognitif. Tokoh dari pendekatan ini adalah Lev Vygotsky
(1886-1934) ahli psikologi dari Rusia.
2. Pendekatan Belajar atau
Lingkungan
Teori-teori belajar atau
lingkungan berakar dari asumsi bahwa tingkah laku anak di peroleh melalui
pengkondisian (conditioning) dan prinsip-prinsip belajar. Di sini dibedakan
antara tingkah laku yang dipelajari dengan temporer. Dalam hal ini B. F.
Skinner membedakan :
a. Respondent Behavior,
merupakan respons yang didasarkan kepada refleks yang di kontrol oleh stimulus.
Seperti : mengisap dan menggenggam, anak-anak dan juga orang dewasa biasa
menampilkan tingkah laku responden, yaitu dalam bentuk (1) Respons Fisiologis
(seperti bersin); dan (2) Respons Emosional (seperti sedih dan marah).
b. Overan Behavior, yaitu
tingkah laku suka rela yang di kontrol oleh dampak atau konsekuensinya.
Bandura meyakini bahwa
belajar melalui observasi atau modeling itu melibatkan empat proses, yaitu
sebagai berikut :
1. Attentional, yaitu proses
dimana observer atau anak menaruh perhatian terhadap tingkah laku atau
penampilan model (orang yang diimitasi).
2. Retention, yaitu proses
yang merujuk kepada upaya anak untuk memasukkan informasi tentang model.
3. Production, yaitu proses
mengontrol bagaimana anak dapat mereproduksi respons atau tingkah laku model.
4. Motivational, yaitu
proses pemilihan tingkah laku model yang diimitasi oleh anak.
3. Pendekatan Etologi
Pendekatan ini merupakan
studi perkembangan dari perspektif evolusioner yang di dasarkan pada
prinsip-prinsip evolusi yang diajukan pertama kalinya oleh Charles Darwin.
Konsep ini merujuk kepada asal usul biologis atau evolusioner tentang tingkah
laku sosial.
Lorenz dan Tinberger,
dua orang pendiri gerakan etologi mengidentifikasi empat karakteristik tingkah
laku bawaan, yaitu : (a) universal, (b) stereotip, (c) bukan hasil belajar, dan
(d) sangat minim sekali dipengaruhi lingkungan.
4. Pendekatan Imam
Al-Ghzali
Al-Ghazali tidak
menganjurkan penggunaan satu metode saja dalam menghadapi permasalahan akhlak
serta pelaksanaan pendidikan anak. Dia menganjurkan agar guru memilih metode
pendidikan sesuai dengan usia dan tabiat anak, daya tangkap dan daya tolaknya
(daya persepsi dan daya rejeksinya). Dalam upaya mengembangkan akhlakul karimah
(akhlak mulia) anak, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
a. menjauhkan anak dari
pergaulan yang tidak baik,
b. membiasakannya untuk
bersopan santun,
c. memberikan pujian kepada
anak yang melakukan amal shaleh,
d. membiasakannya
mengenakan pakaian yang putih (bagus), bersih dan rapi,
e. mencegah anak untuk
tidur di siang hari,
f. menganjurkan mereka
untuk berolah raga,
g. menanamkan sikap
sederhana,
h. mengizinkannya bermain
setelah belajar.
D. Teori Perkembangan
Manusia
Pada pembahasan jiwa (anima) diketahui bahwa
manusia memiliki kesempurnaan dibanding makluk yang lain. Manusia dalam hidup
mengalami perubahan-perubahan baik fisik maupun kejiwaan (fisiologis dan psikologis).
Banyak faktor yang menetukan perkembangan manusia, yang mengakibatkan munculnya
berbagai teori tentang perkembangan manusia. Teori-teori tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Teori Nativisme
Pelopor teori ini adalah Athur Schopenhauer. Teori ini
menyatakan bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh nativus atau
faktor-faktor bawaan manusia sejak dilahirkan. Teori ini menegaskan bahwa
manusia memiliki sifat-sifat tertentu sejak dilahirkan yang mempengaruhi dan
menentukan keadaan individu yang bersangkutan. Faktor lingkungan dan pendidikan
diabaikan dan dikatakan tidak berpengaruh terhadap perkembangan manusia.
Teori ini memiliki pandangan seolah-olah sifat-sifat
manusia tidak bisa diubah karena telah ditentukan oleh sifat-sifat turunannya.
Bila dari keturunan baik maka akan baik dan bila dari keturunan jahat maka akan
menjadi jahat. Jadi sifat manusia bersifat permanen tidak bisa diubah. Teori
ini memandang pendidikan sebagai suatu yang pesimistis serta mendeskreditkan
golongan manusia yang “kebetulan” memiliki keturunan yang tidak baik.
2. Teori empirisme
Berbeda dengan teori sebelumnya, teori ini memandang
bahwa perkembangan individu dipengaruhi dan ditentukan oleh pengalaman-pengalaman
yang diperoleh selama perkembangan mulai dari lahir hingga dewasa. Teori ini
memandang bahwa pengalaman adalah termasuk pendidikan dan pergaulan. Penjelasan
teori ini adalah manusia pada dasarnya merupakan kertas putih yang belum ada
warna dan tulisannya akan menjadi apa nantinya manusia itu bergantung pada apa
yang akan dituliskan.
Pandangan teori ini lebih optimistik terhadap pendidikan, bahkan pendidikan adalah termasuk faktor penting untuk menenukan perkembangan manusia. Teori ini dipolopori oleh Jhon Locke.
Pandangan teori ini lebih optimistik terhadap pendidikan, bahkan pendidikan adalah termasuk faktor penting untuk menenukan perkembangan manusia. Teori ini dipolopori oleh Jhon Locke.
3. Teori Konvergensi
Teori ini merupakan gabungan dari kedua teori di atas
yang menyatakan bahwa pembawaan dan pengalaman memiliki peranan dalam
mempengaruhi dan menentukan perkembangan individu. Asumsi teori ini berdasar
eksperimen dari William Stern terhadap dua anak
kembar. Anak kembar memiliki sifat keturunan yang sama, namun setelah
dipisahkan dalam lingkungan yang berbeda anak kembar tersebut ternyata memiliki
sifat yang berbeda. Dari sinilah maka teori ini menyimpulkan bahwa sifat
keturunan atau pembawaan bukanlah faktor mayor yang menentukan perkembangan
individu tapi turut juga disokong oleh faktor lingkungan.
Faktor pembawaan manusia dalam teori ini disebut sebagai faktor endogen yang meliputi faktor kejasmanian seperti kulit putih, rambut keriting, rambut warna hitam. Selain faktor kejasmanian faktor ada juga faktor pembawaan psikologis yang disebut dengan temperamen. Temperamen berbeda dengan karakter atau watak. Karakter atau watak adalah keseluruhan ari sifat manusia yang namapak dalam perilaku sehari-hari sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan dan bersifat tidak konstan. Jika watak atau karakter bersifat tidak konstan maka temperamen bersifat konstan, selain temperamen dan sifat jasmani, faktor endogen lainnya yang ada pada diri manusia adalah faktor bakat (aptitude). Aptitude adalah potensi-potensi yang memungkinkan individu berkembang ke satu arah.
Untuk faktor lingkungan yang dimaksud dalam teori ini disebut sebagai faktor eksogen yaitu faktor yang datang dari luar diri manusia berupa pengalaman, alam sekitar, pendidikan dan sebagainya yang populer disebut sebagai milieu. Perbedaan antara lingkungan dengan pendidikan adalah terletak pada keaktifan proses yang dijalankan.
Faktor pembawaan manusia dalam teori ini disebut sebagai faktor endogen yang meliputi faktor kejasmanian seperti kulit putih, rambut keriting, rambut warna hitam. Selain faktor kejasmanian faktor ada juga faktor pembawaan psikologis yang disebut dengan temperamen. Temperamen berbeda dengan karakter atau watak. Karakter atau watak adalah keseluruhan ari sifat manusia yang namapak dalam perilaku sehari-hari sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan dan bersifat tidak konstan. Jika watak atau karakter bersifat tidak konstan maka temperamen bersifat konstan, selain temperamen dan sifat jasmani, faktor endogen lainnya yang ada pada diri manusia adalah faktor bakat (aptitude). Aptitude adalah potensi-potensi yang memungkinkan individu berkembang ke satu arah.
Untuk faktor lingkungan yang dimaksud dalam teori ini disebut sebagai faktor eksogen yaitu faktor yang datang dari luar diri manusia berupa pengalaman, alam sekitar, pendidikan dan sebagainya yang populer disebut sebagai milieu. Perbedaan antara lingkungan dengan pendidikan adalah terletak pada keaktifan proses yang dijalankan.
BAB III
PENUTUP
a. Simpulan
Perkembangan merupakan
pola perkembangan individu yang berawal pada konsepsi dan terus berlanjut
sepanjang hayat dan bersifat involusi (Santrok Yussen 1992). Dengan demikian
perkembangan berlangsung dari proses terbentuknya individu dari proses
bertemunya sperma dengan sel telur dan berlangsung sampai akhir hayat yang
bersifattimbulnya adanya perubahan dalam diri individu.
Bagi para teoritisi
psikoanalitis, perkembangan pada dasarnya tidak disadari yaitu diluar kesadaran
dan sangat diwarnai oleh emosi.
Pakar psikologi Swiss
terkenal Jean Piaget (1896-1980) menekankan bahwa anak-anak membangun secara
aktif dunia kognitif mereka sendiri; informasi tidak sekedar dituangkan ke
dalam pikiran mereka dari lingkungan.
Teori-teori perkembangan pada manusia diantaranya
adalah sebagai berikut:Teori Nativisme, Teori empirisme, Teori Konvergensi.
b. Saran
Dari beberapa teori yang telah diuraikan, kita
mengetahui bahwa tiap-tiap teori memiliki kelemahan dan kekurangan
masing-masing. Oleh karena itu, di dalam penerapannya kita tidak perlu terpaku
atau hanya cenderung kepada salah satu teori saja. Kita dapat mengambil manfaat
dari beberapa teori sesuai dengan situasi dan kondisi seseorang.
DAFTAR PUSTAKA
Yusuf,Syamsu.2002.Psikologi Perkembangan Anak dan
Remaja.Bandung: Rosdakarya
http://blog.uin-malang.ac.id/muttaqin/category/ilmu-umum/perkembangan-anak-didik/.diunduh 13 Februari 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar